Posts

Showing posts from February, 2026

UANG KERTAS 500 RUPIAH 1952 SERI KEBUDAYAAN

Image
No. Inv. : 06.1004 Tampak Depan Tampak Belakang Ukuran                  : 150 mm x 90 mm Seri                         : Kebudayaan Emisi                      : 1952 Pengaman            : Tanda air ( watermark ) delapan garis gelombang Masa Peredaran : 1952 sampai dengan 1962 Uang kertas ini berbentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dan didominasi warna merah, hijau, serta cokelat yang berpadu harmonis dalam komposisi visualnya. Proses pencetakannya menggunakan kombinasi beberapa teknik, yaitu cetak offset untuk bagian latar belakang, cetak intaglio (cetak dalam) untuk gambar utama dan ornamen penting sehingga menghasilkan tekstur timbul yang khas, serta cetak tinggi (letterpress) untuk pencetakan nomor seri. Perpaduan teknik tersebut tidak hanya memperkuat nilai estetika, tetapi juga...

UANG KERTAS 1 RUPIAH 1954 SERI SUKU BANGSA

Image
  No. Inv. : 06.935 Tampak Depan Tampak Belakang Ukuran                  : 130 mm x 60 mm Seri                         : Suku Bangsa Emisi                      : 1954 Pengaman            : Serat halus Masa Peredaran : 1954 sampai dengan tidak diketahui. Uang kertas ini berbentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dan didominasi warna biru kehijauan.  Proses pencetakannya menggunakan kombinasi beberapa teknik, yaitu teknik cetak offset untuk latar belakang, teknik cetak intaglio (cetak dalam) untuk gambar utama dan ornamen penting, serta teknik cetak tinggi (letterpress) untuk no mor seri.  Selain itu, digunakan pula serat halus yang tertanam dalam kertas sebagai unsur pengaman guna membedakan uang asli dari pemalsuan. Pada sisi depan (obverse) terdapat visual seorang gadi...

UANG KERTAS 10 RUPIAH 1950 SERI RIS

Image
  No. Inv. : 06.918 Tampak Depan Tampak Belakang Ukuran                           : 136 mm x 64 mm Seri                                    : RIS Emisi                         : 1950 Pengaman               : Cetak ukir dan Kode kontrol Masa Peredaran   : 1 Januari 1950 sampai dengan 17 Agustus 1950. Uang ini berbentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dengan warna dominan ungu tua. Proses pencetakannya menggunakan kombinasi beberapa teknik, yaitu teknik cetak offset untuk latar belakang, teknik cetak intaglio (cetak dalam) untuk gambar utama dan ornamen penting, serta teknik cetak tinggi (letterpress) untuk nomor seri. Penggunaan teknik intaglio merupakan salah satu unsur pengaman ut...

UANG KERTAS 50 RUPIAH 1948 SERI ORIDA

  No. Inv. : 06.1064 Uang kertas ini memiliki bentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dan berdimensi kurang lebih 147x80  mm. Secara visual, tampilan fisik uang ini didominasi oleh warna cokelat tua dengan latar belakang pola garis-garis kuning yang khas. Tata letak unsur-unsur grafisnya disusun secara simetris dengan komposisi bidang yang seimbang, mencerminkan karakteristik uang darurat pada masa awal kemerdekaan. Sebagai instrumen pengaman, terdapat nomor seri yang terdiri atas kombinasi lima angka dan tiga huruf yang berfungsi sebagai penanda keaslian sekaligus alat pengendali jumlah uang yang beredar. Pada sisi depan atau obverse , tercantum identitas negara "REPUBLIK INDONESIA", penyebut nilai nominal "LIMA PULUH RUPIAH", serta keterangan wilayah "PROPINSI SUMATERA". Di sisi kiri nilai nominal, terdapat teks "TANDA PEMBAJARAN JANG SAH", sementara di sisi kanan tertera keterangan jabatan "GUBERNUR SUMATERA" yang disertai...

UANG KERTAS 10 RUPIAH 1947 SERI ORIDA

No. Inv. : 06.1063 Uang kertas ini berbentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dan berukuran kurang lebih 133 × 74 mm. Secara visual, tampilannya didominasi warna cokelat kemerahan dengan teknik cetak yang menampilkan detail ornamen halus dan dekoratif. Nomor seri pada uang terdiri atas kombinasi lima angka dan tiga huruf yang berfungsi sebagai penanda keaslian sekaligus alat pengendali jumlah uang yang beredar. Tata letak unsur-unsurnya tersusun simetris dengan komposisi bidang yang seimbang, mencerminkan karakter uang darurat pada masa awal kemerdekaan. Pada sisi depan ( obverse ) tercantum teks utama “TANDA PEMBAJARAN JANG SAH” serta nominal “SEPULUH RUPIAH”. Ejaan yang digunakan masih mengikuti Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) yang berlaku pada masa itu. Di bagian bawah tertera keterangan tempat dan tanggal emisi, yakni “BUKITTINGGI, 17-8-1947”.  Tepat di bagian bawah, tertera tanda tangan Mr. Teuku Muhammad Hasan selaku Gubernur Sumatra. Identitas penerbit ditegaskan ...

UANG KERTAS 100 ROEPIAH 1944 "PEMERINTAH DAI NIPPON"

Image
Tampak Depan Tampak Belakang No. Inv.: 06.1029 Uang kertas ini berbentuk persegi panjang horizontal dengan ukuran sekitar 175 × 86 mm. Proses pencetakannya menggunakan teknik cetak tinggi dengan tambahan pola guilose sebagai unsur pengaman sederhana. Pada sisi depan ( obverse ), warna yang mendominasi adalah ungu kecokelatan. Bagian atas uang memuat teks utama "PEMERINTAH DAI NIPPON", sementara nilai nominal "SERATOES ROEPIAH" tertera dengan jelas di bagian tengah, didampingi angka nominal "100" pada setiap sudutnya. Ilustrasi latar menggambarkan panorama pedesaan berupa rumah panggung, pohon kelapa, dan vegetasi tropis. Kode seri "SO" tercetak di kiri dan kanan. Pada bagian bawah terdapat tulisan Kanji Jepang  Dai Nippon Teikoku Seifu  (大日本帝國政府) yang bermakna "Pemerintah Kekaisaran Jepang Besar" sebagai penegasan otoritas penerbitnya. Sisi belakang ( reverse ) didominasi warna cokelat kemerahan. Ilustrasi utamanya menggambarkan seorang...

UANG KERTAS 10 ROEPIAH 1943 "DAI NIPPON TEIKOKU SEIHU"

Image
Tampak Depan Tampak Belakang No. Inv. : 06.794 Uang kertas ini berbentuk persegi panjang horizontal dengan ukuran kurang lebih 159 × 77 mm. Proses pencetakannya menggunakan teknik cetak tinggi ( letterpress ) dengan tambahan ornamen garis halus (guilose) sebagai unsur pengaman visual. Pada sisi depan ( obverse ) tampak warna dominan cokelat kemerahan. Terdapat teks utama dalam bahasa Jepang berbunyi “DAI NIPPON TEIKOKU SEIHU” yang berarti “Pemerintah Kekaisaran Jepang Besar”. Angka nominal “10” tercetak pada sudut kanan atas dan kiri bawah. Pada bagian bawah tengah terdapat teks aksara Kanji berbunyi 府政國帝本日大 (Dai Nippon Teikoku Seifu). Ilustrasi utama menampilkan figur penari Wayang Orang yang sering diidentifikasi sebagai tokoh Gatotkaca, lengkap dengan mahkota dan busana tradisional. Kode seri “SL” berwarna merah tercetak pada bidang depan; huruf pertama “S” merupakan kode wilayah Sumatra atau Hindia Belanda dalam sistem administrasi pendudukan Jepang, sementara huruf berikutnya ...

UANG KERTAS 5 GULDEN 1942 "DE JAPANSCHE REGEERING"

Image
  Tampak Depan Tampak Belakang No. Inv. : 06.1003 Uang kertas ini memiliki bentuk fisik persegi panjang horizontal dengan dimensi ukuran sekitar 135x65 mm dan diproduksi menggunakan teknik cetak tinggi. Secara visual, uang tersebut didominasi oleh warna hijau pada kedua sisinya. Pada bagian tengah sisi depan, terdapat teks utama dalam bahasa Belanda yang berbunyi “DE JAPANSCHE REGEERING BETAALT AAN TOONDER VIJF GULDEN”, yang bermakna "Pemerintah Jepang membayar kepada pembawa lima gulden". Desain ini diperindah dengan ilustrasi pohon kelapa di sebelah kiri dan pohon pepaya di sebelah kanan sebagai simbol kekayaan alam wilayah Indonesia. Sementara itu, angka nominal “5” tertera pada keempat sudut uang. Pada bagian bawah tengah sisi depan, tercantum kode blok atau seri “S G”. Huruf “S” merujuk pada wilayah Sumatra atau secara umum untuk wilayah "South" (Hindia Belanda), sedangkan huruf “G” merujuk pada urutan blok cetakan atau identitas pabrik pencetak spesifik. Tepat...

CERANA (06.45/2016)

Image
Cerana ini terbuat dari bahan kuningan dengan bentuk  persegi panjang. Bagian atasnya dilengkapi penutup (tutup) yang dapat diangkat, dengan bentuk bertingkat (berundak) dan tepi melebar ke luar. Permukaan tutup dihiasi ukiran atau pahatan bermotif floral dan geometris yang tersusun simetris, dengan ornamen menyerupai sulur-suluran dan bunga di bagian tengah. Hiasan tersebut dibuat dengan teknik ukir atau cetak tekan pada logam.  Bagian badan kotak tampak sedikit meruncing ke bawah, dengan dinding sisi yang dihiasi relief motif sulur atau tumbuhan yang memanjang secara horizontal. Pada bagian bawah terdapat kaki penyangga pendek berbentuk lengkung, sehingga kotak tidak langsung menempel pada permukaan alas.  Secara fungsional, cerana ini digunakan sebagai wadah untuk menyimpan kelengkapan makan sirih, seperti daun sirih, pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Berdasarkan bentuk dan gaya hiasannya, cerana ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 M...

UANG KERTAS 5 RUPIAH 1947 SERI ORIDA

Image
Tampak Depan Tampak Belakang No. Inv. : 06.1062 Uang kertas ini berbentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dan berukuran kurang lebih 130 × 75 mm. Secara visual, tampilannya didominasi warna ungu kecokelatan  dengan teknik cetak yang menampilkan detail ornamen halus dan dekoratif . Nomor seri terdiri atas lima angka dan tiga huruf yang tercetak merah sebagai penanda keaslian serta pengendalian administrasi peredaran. Pada sisi depan ( o bverse ) tercantum teks utama “TANDA PEMBAJARAN JANG SAH BERLAKU UNTUK DAERAH RIAU” serta nominal “LIMA RUPIAH”. Terdapat pula keterangan tempat dan tanggal emisi, yaitu “BUKITTINGGI, 17-12-1947”. Di bagian bawah tertera tanda tangan Mr. Teuku Muhammad Hasan selaku Gubernur Sumatera di atas tulisan “GUBERNUR SUMATERA” dan nama penerbit “REPUBLIK INDONESIA PROPINSI SUMATERA”. Ilustrasi utama berupa figur penari wayang wanita yang ditempatkan di sisi kiri bidang uang. Angka nominal “5” dicantumkan pada sisi kanan serta pada keempat sudut se...

UANG KERTAS 1 GULDEN 1942 "DE JAPANSCHE REGEERING"

Image
Tampak Depan Tampak Belakang No. Inv. : 06.1065 Uang kertas ini memiliki bentuk fisik persegi panjang horizontal dengan dimensi ukuran kurang lebih 141×68 mm. Secara visual, uang tersebut didominasi oleh warna cokelat dengan cetakan dasar (underprint) berwarna hijau. Pada bagian tengah sisi depan, terdapat teks utama dalam bahasa Belanda yang berbunyi "DE JAPANSCHE REGEERING BETAALT AAN TOONDER EEN GULDEN", yang bermakna "Pemerintah Jepang membayar kepada pembawa satu gulden". Desain tersebut dilengkapi dengan ilustrasi pohon sukun di sebelah kiri serta pohon kelapa di sebelah kanan, disertai angka nominal "1" yang tercetak besar pada sisi kiri dan kanan uang. Pada bagian bawah tengah sisi depan, tertera kode blok atau seri "S I". Huruf "S" merupakan kode identitas wilayah untuk Sumatra atau Hindia Belanda di bawah naungan Southern Development Bank , sedangkan huruf "I" merujuk pada urutan blok cetakan atau identitas spesifik ...

CERANA (03.43/2016)

Image
Cerana ini terbuat dari bahan kuningan dengan penampang berbentuk oktagonal memanjang atau memiliki delapan sisi. Struktur utamanya terdiri atas dua bagian, yaitu wadah dan tutup yang disatukan dengan engsel sehingga dapat dibuka dan ditutup dengan mudah. Bagian penutup dirancang bertingkat dan dihiasi relief garis-garis geometris pada permukaan atasnya. Motif utama yang tampak menyerupai simbol simpul atau bunga empat kelopak yang memanjang secara horizontal, memberikan kesan dekoratif sekaligus mempertegas nilai estetikanya. Secara fungsional, cerana ini digunakan sebagai wadah untuk meletakkan perlengkapan menyirih, seperti pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Kehadirannya tidak hanya sebagai perlengkapan rumah tangga, tetapi juga memiliki makna sosial dalam tradisi masyarakat Melayu, terutama dalam penyambutan tamu atau upacara adat. Berdasarkan bentuk dan gaya hiasannya, cerana ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 Masehi.

KENDI (08.586.2016)

Image
Kendi ini terbuat dari tanah liat berglasir dan terdiri atas tiga bagian utama, yaitu badan, leher, dan gagang. Bagian badan berbentuk bulat lebar sebagai ruang utama penampung air, sedangkan lehernya relatif pendek dengan bibir mulut ( rim ) yang sedikit melebar ke luar untuk memudahkan proses penuangan. Pada sisi samping terdapat gagang yang melengkung dan dilapisi lilitan rotan, sehingga memberikan cengkeraman yang lebih kuat serta mencegah tangan tergelincir saat digunakan. Seluruh badan kendi dibungkus dengan jaring-jaring yang terbuat dari jalinan serat alam, seperti rotan atau mendong, yang disusun saling mengunci. Anyaman ini berfungsi sebagai pelindung dari benturan sekaligus memperkuat struktur luar kendi. Untuk menjaga kestabilannya, kendi diletakkan di atas piringan anyaman rotan (lepa) sebagai dudukan agar bagian dasarnya tidak langsung bersentuhan dengan tanah atau permukaan keras lainnya.  Secara fungsional, kendi ini digunakan sebagai wadah air minum harian yang ma...

TEMPAT NIRA (08.511.2016)

Image
  Wadah ini terbuat dari tanah liat dan berbentuk bulat menyerupai globus (globular). Permukaan luarnya dibungkus dengan lilitan tali yang berfungsi sebagai pelindung dari benturan sekaligus memudahkan pegangan saat dipindahkan. Pada bagian atasnya terdapat tutup berbahan kayu yang dihiasi figur antropomorfik berupa patung manusia kecil dalam posisi jongkok. Di bagian kepala figur tersebut tampak ikatan rambut atau bulu yang berdiri tegak sebagai unsur dekoratif sekaligus simbolik. Untuk menjaga kestabilannya ketika diletakkan di permukaan datar, wadah ini ditempatkan di atas piringan anyaman rotan, seperti tampah kecil atau lepa, yang berfungsi sebagai alas penopang. Secara fungsional, wadah ini digunakan untuk menampung dan menyimpan nira, yaitu cairan manis yang disadap dari bunga pohon aren atau palem. Nira tersebut dapat dikonsumsi dalam keadaan segar maupun difermentasi menjadi minuman tradisional yang dikenal sebagai tuak. Selain memiliki fungsi praktis, bentuk dan hiasanny...

BEDUG

Secara fisik, bedug berbentuk tabung besar dengan badan (selongsong) yang terbuat dari sepotong batang kayu utuh sepanjang kurang lebih 1,8 meter. Bagian tengah batang kayu tersebut dilubangi hingga membentuk rongga silindris yang berfungsi sebagai ruang resonansi suara. Salah satu ujung batang yang berdiameter lebih besar ditutup dengan kulit hewan, umumnya kulit sapi atau kerbau, yang telah dikeringkan dan diregangkan dengan kuat. Kulit penutup itu dipasang pada badan kayu menggunakan rangkaian paku kayu atau pasak yang ditanam mengelilingi tepiannya sehingga ketegangan permukaan tetap terjaga dan menghasilkan kualitas bunyi yang nyaring serta bergaung. Permukaan badan bedug biasanya dilapisi cat berwarna gelap sebagai pelindung kayu dari kerusakan sekaligus mempertegas kesan kokoh dan monumental. Dalam tradisi Melayu Riau, bedug tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu salat, tetapi juga sebagai sarana komunikasi sosial dan simbol peresmian kegiatan keagamaan. Bunyi bedug yang be...

UANG KOIN 10 SEN EMISI 1951

Koin Republik Indonesia ini berbentuk bulat pipih dan terbuat dari bahan aluminium yang ringan. Diameter koin sekitar 23 mm,  ketebalan kurang lebih 2 mm, dan berat sekitar 1,7 gram . Permukaannya menampilkan relief tulisan dan gambar yang dicetak menonjol, sehingga unsur visual dan simboliknya tampak jelas meskipun ukurannya relatif kecil. Pada sisi depan ( obverse ) terdapat lambang negara Garuda Pancasila yang ditempatkan sebagai pusat komposisi. Di bagian atas tertera teks “Indonesia” dalam aksara Arab-Melayu (Jawi). Sementara itu, pada sisi belakang (reverse ) terdapat tulisan melingkar “INDONESIA” di bagian atas dan angka tahun “1951” di bagian bawah yang diapit oleh empat simbol bunga kecil, masing-masing dua di sisi kiri dan kanan. Di bagian tengah tercantum nilai nominal “10 SEN” dengan latar belakang dekorasi geometris. Pada bagian bawah nilai nominal terdapat simbol caduceus sebagai tanda percetakan dari Koninklijke Nederlandse Munt di Utrecht, serta simbol ikan seba...

UANG KOIN 5 SEN EMISI 1951 (06.913)

Koin ini berbentuk bulat pipih dengan lubang di bagian tengah dan terbuat dari aluminium. Diameter koin sekitar 18 mm, ketebalan kurang lebih 1,3 mm, dan berat sekitar 0,56 gram. Permukaannya menampilkan relief tulisan dan gambar yang dicetak menonjol. Lubang di tengah menjadi ciri khas desainnya, berfungsi untuk menghemat bahan logam sekaligus memudahkan penyimpanan dengan cara dirangkai menggunakan tali. Pada sisi depan ( obverse ) terdapat tulisan “INDONESIA 1951” di bagian atas dan “5 SEN” di bagian bawah, disertai gambar tangkai padi yang melengkung di kiri dan kanan lubang sebagai lambang kemakmuran. Di dekat angka “5” terdapat dua tanda kecil, yaitu simbol caduceus sebagai mintmark dari Koninklijke Nederlandse Munt di Utrecht serta simbol ikan sebagai mintmaster mark dari Dr. J.W.A. van Hengel. Pencetakan di Belanda dilakukan karena pada masa itu Indonesia belum memiliki fasilitas percetakan uang logam sendiri. Pada sisi belakang ( reverse ) tertera tulisan aksara Arab-Melay...

UANG KOIN 1 GULDEN EMISI 1928 (06.1016)

Koin ini merupakan mata uang utama dari Kerajaan Belanda pada awal abad ke-20. Secara fisik, koin berbentuk bulat pipih dengan tepi rata dan dibuat dari bahan utama perak. Diameter koin sekitar 28 mm dengan berat standar kurang lebih 10 gram, sesuai dengan standar uang perak yang berlaku pada masa itu. Permukaannya menampilkan relief tulisan dan gambar yang dicetak menonjol dengan teknik tinggi, mencerminkan kualitas produksi percetakan uang logam negara. Pada sisi depan ( obverse ) terpahat profil Wilhelmina menghadap ke kiri. Di sekelilingnya terdapat tulisan melingkar berbunyi “WILHELMINA KONINGIN DER NEDERLANDEN” yang menegaskan kedudukannya sebagai Ratu Belanda. Potret resmi ini menjadi ciri khas koin gulden pada masa pemerintahannya dan berfungsi sebagai simbol legitimasi monarki. Sisi belakang ( reverse ) menampilkan lambang negara Belanda berupa singa bermahkota yang memegang pedang dan anak panah di dalam perisai. Di bagian bawah tertera nominal “1 G” dan angka tahun “1928”, ...

UANG KOIN 5 SEN EMISI 1962 (06.1147)

Koin ini merupakan uang logam pecahan 5 Sen yang termasuk dalam Seri Sukarno dan diterbitkan pada era Demokrasi Terpimpin di bawah kepemimpinan Sukarno . Secara fisik, koin berbentuk bulat pipih dengan tepi rata tanpa gerigi. Bahan pembuatannya adalah aluminium sehingga bobotnya ringan, dengan diameter sekitar 20,8 mm dan berat standar kurang lebih 1,27 gram. Permukaan koin menampilkan relief tulisan dan gambar yang dicetak menonjol dari bidang dasarnya. Pada sisi depan ( obverse ) terpahat profil samping Presiden Sukarno yang mengenakan peci sebagai simbol identitas nasional. Di sekeliling gambar tersebut terdapat tulisan melingkar berbunyi “PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA * SUKARNO*”. Komposisi ini menegaskan kedudukan kepala negara sekaligus memperlihatkan penegasan simbol kedaulatan Republik Indonesia melalui figur presiden yang sedang menjabat. Pada sisi belakang ( reverse ) tertera nominal “5 SEN” dan angka tahun “1962” sebagai penanda masa emisi. Di bagian tepi terdapat hiasan rang...

UANG KOIN 2½ SEN EMISI 1920 (06.917 & 06.918)

Koin 2½ Sen (2½ Cent) merupakan uang logam yang diterbitkan oleh pemerintah kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Secara fisik, koin ini berbentuk bulat pipih dengan tepi rata tanpa gerigi. Bahan pembuatannya adalah tembaga, sehingga permukaannya memperlihatkan warna cokelat kemerahan yang khas. Diameter koin sekitar 31 mm dengan berat standar kurang lebih 12,5 gram. Seluruh tulisan dan gambar dicetak dalam bentuk relief yang menonjol dari bidang dasar koin, memperlihatkan teknik pencetakan logam yang presisi pada masanya. Pada sisi muka ( obverse ) tertera lambang negara Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota yang memegang pedang dan sekumpulan anak panah di dalam perisai. Di sekelilingnya tercantum tulisan “NEDERLANDSCH INDIE”, angka tahun “1920” sebagai penanda tahun emisi, dan nilai nominal “2½ CENƬ” pada bagian bawah. Selain identitas negara, terdapat dua simbol kecil yang sarat makna di kanan dan kiri bawah perisai.   Mintmark berada di sebelah kanan perisai berupa gambar ca...

UANG KOIN 50 SEN EMISI 1952 (06.911 & 06.912)

  Koin 50 Sen merupakan uang logam yang diproduksi dengan material tembaga-nikel ( cupronickel ) sehingga memiliki warna perak keabu-abuan yang khas dan ketahanan yang baik terhadap korosi. Secara fisik, koin ini berbentuk bulat pipih dengan diameter sekitar 20 mm, berat kurang lebih 3 gram, dan bagian tepi yang dibuat bergerigi. Pada sisi muka ( obverse ), koin menampilkan profil wajah Pangeran Diponegoro yang menghadap ke kiri dengan relief menonjol. Di sisi kiri terdapat tulisan "DIPA NEGARA", sementara di sisi kanan terdapat tulisan serupa dalam aksara Jawi (Arab-Melayu). Baliknya, pada sisi belakang ( reverse ), tertera tulisan "INDONESIA" di bagian atas, nominal "50 SEN" di tengah yang dihiasi motif garis bergelombang, serta tahun emisi "1952" di bagian bawah yang diapit oleh empat kuntum bunga kecil. Meskipun dicetak di Utrecht, Belanda oleh Koninklijke Nederlandse Munt , koin ini sepenuhnya diperuntukkan bagi sirkulasi ekonomi domestik In...

UANG KOIN 2 RUPIAH EMISI 1970 (06.971)

  Koin 2 Rupiah merupakan uang logam yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada tahun 1970. Secara fisik, koin ini berbentuk bulat pipih dengan tepi rata (tanpa gerigi). Bahan pembuatannya adalah aluminium sehingga berwarna putih keperakan dan memiliki bobot yang relatif ringan. Diameter koin sekitar 26 mm dengan berat kurang lebih 2 gram. Relief tulisan dan gambar dicetak menonjol dari permukaan dasar koin. Pada sisi muka ( obverse ), tertera tulisan “BANK INDONESIA” yang melingkar mengikuti tepian bagian atas. Di bagian tengah terdapat angka nominal besar “2”. Pada bagian bawah tercantum tulisan “RUPIAH” dan angka tahun “1970” sebagai penanda tahun emisi. Dua ornamen berbentuk bintang kecil ditempatkan di kiri dan kanan bagian bawah sebagai elemen dekoratif. Sementara itu, pada sisi belakang ( reverse ) tercantum tulisan “Rp” dan angka “2” dalam ukuran besar yang dikelilingi hiasan motif flora berupa rangkaian bunga dan daun yang tersusun melengkung mengikuti bidang koin. Motif...

STEMPEL RIAU - LINGGA 1237

Image
  Stempel Tampak Depan (Sumber : Dokumentasi Museum Sang Nila Utama) Tinggi keseluruhan : 10,7 cm Panjang tangkai : 10,7 cm Diameter tangkai : 0,6 cm Tebal tangkai : 0,0230 mm Diameter kepala stempel : 2 cm Tebal kepala stempel : 0,0380 mm Berat : 13,58 gr Stempel ini merupakan peninggalan  Kesultanan Riau-Lingga  yang berbahan utama tembaga dan dikerjakan dengan teknik cor. Secara fisik, benda ini tampak kokoh dan padat sebagai perlengkapan administrasi resmi kerajaan. Strukturnya terdiri atas dua bagian utama, yaitu kepala stempel dan tangkai. Kepala stempel berbentuk lingkaran sempurna (sirkular) dengan permukaan depan rata yang memuat inskripsi beraksara Arab. Tulisan tersebut dibuat menggunakan teknik ketok atau tatah secara presisi sehingga membentuk huruf cekung yang akan menghasilkan tulisan timbul ketika dicapkan pada media tertentu. Bagian belakang kepala stempel menyatu dengan tangkai berbentuk silinder memanjang, berdiameter ramping, dan berproporsi tegak. Pad...