Posts

PAKAIAN MASYARAKAT MELAYU

Image
  Pakaian Masyarakat Melayu mencerminkan kesopanan, keanggunan, dan nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari maupun acara adat. Ciri khasnya terlihat pada penggunaan baju kurung (untuk Wanita) dan baju cekak musang (untuk pria), sering dipadukan dengan kain songket atau sarung bermotif khas. Warna dan motif yang digunakan memiliki makna simbolik, seperti keberanian, kesucian, dan kebijaksanaan. Selain sebagai penutup tubuh, pakaian adat Melayu juga menjadi simbol identitas, kehormatan, serta penghormatan terhadapa tradisi dan leluhur.

PAKAIAN NINIK MAMAK

Image
  Pakaian berbahan satin ini merupakan busana adat yang dikenakan oleh pemangku adat atau tetua adat Melayu di Provinsi Riau. Ninik Mamak memegang peran penting dalam struktur adat, sehingga busana yang dikenakan mencerminkan wibawa, kehormatan, dan kedudukan tinggi di dalam masyarakat.

PAKAIAN MASYARAKAT MELAYU

Image
  Pakaian Masyarakat Melayu mencerminkan kesopanan, keanggunan, dan nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari maupun acara adat. Ciri khasnya terlihat pada penggunaan baju kurung (untuk Wanita) dan baju cekak musang (untuk pria), sering dipadukan dengan kain songket atau sarung bermotif khas. Warna dan motif yang digunakan memiliki makna simbolik, seperti keberanian, kesucian, dan kebijaksanaan. Selain sebagai penutup tubuh, pakaian adat Melayu juga menjadi simbol identitas, kehormatan, serta penghormatan terhadapa tradisi dan leluhur.

SOEMAN Hs. (1904 - 1999)

Soeman Hasibuan, yang dikenal dengan nama pena Soeman Hs., adalah sastrawan angkatan Balai Pustaka dan tokoh pendidik asal Riau. Ia lahir pada 4 April 1904 di Desa Bantan Tua, Bengkalis. Perjalanan pendidikannya dimulai dari Sekolah Melayu (tamat 1918), dilanjutkan ke Normaal Cursus di Medan, dan sekolah guru Normaal School di Langsa, Aceh (tamat 1923). Soeman mulai mengajar Bahasa Melayu di HIS Siak Sri Indrapura pada tahun 1923, kemudian pindah ke Pasir Pengaraian. Dalam 12 tahun pertama sebagai guru, ia menghasilkan lima novel, satu kumpulan cerpen, serta 35 cerpen dan puisi. Karya-karyanya menggunakan tema suspens, humor, fiksi detektif, dan petualangan. Daftar karyanya meliputi: Kasih Tak Terlarai (1929) Pertjobaan Setia (1931) Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan (1932) – Karya paling populer. Kasih Tersesat (1932) Teboesan Darah (1939) – Menampilkan kembali karakter detektif Sir Joon. Kawan Bergeloet (1941) – Kumpulan cerita pendek yang mengukuhkan posisinya sebag...

TENAS EFFENDY (1936 - 2015)

Tengku Nasaruddin Said Effendy, atau dikenal sebagai Tenas Effendy, adalah seorang budayawan dan sastrawan asal Riau. Ia lahir di Kuala Panduk, Pelalawan, pada 9 November 1936. Tenas menempuh pendidikan dasar di Pelalawan (tamat 1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Guru Bawah (SGB) di Bengkalis (tamat 1953), dan Sekolah Guru Atas (SGA) di Padang (tamat 1957). Pengetahuannya tentang budaya dipengaruhi oleh ayahnya, Tengku Said Umar Muhammad Aljufri, yang merupakan sekretaris Sultan Pelalawan VIII, serta neneknya yang merupakan pembaca syair dan pengrajin tenun tradisional. Tenas mulai menulis pada tahun 1952 di bawah bimbingan Idrus Syarif. Selama di Padang, ia mendirikan Himpunan Seniman Muda Padang dan menjabat sebagai Ketua Cabang Seniman Muda Indonesia Padang bersama B. Jass. Ia aktif memproduksi naskah lakon untuk radio (RRI) dan panggung, dengan total sekitar 90 naskah. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Hang Jebat, Lancang Kuning, dan Bujang Tan Domang. Selain naskah lakon...

IDRUS TINTIN (1932 - 2003)

Idrus Tintin adalah seorang seniman, budayawan, dan tokoh teater terkemuka asal Riau yang dijuluki "Seniman Pemangku Negeri". Ia lahir di Rengat pada 10 November 1932. Ayahnya bernama Tintin, berasal dari Lubuk Ambacang (Kuantan Singingi), dan ibunya bernama Tiamah, berasal dari Penyimahan (Indragiri Hilir). Pendidikan dasarnya dimulai di Sekolah Rakyat (SR) Tarempa, lalu pindah ke Tanjung Pinang pada 1941. Ia sempat belajar di Shoto Chu Gakko (setingkat SMP) milik Jepang namun tidak selesai. Setelah ayahnya wafat akibat pengeboman Jepang, Idrus tinggal di asrama yatim piatu Dai Toa Kodomo Ryo . Di asrama inilah ia mulai mengenal dunia drama dan bergabung dengan grup pimpinan Raja Khatijah. Ia sempat bekerja di Sentral Telepon dan Biro Okabutai karena fasih berbahasa Jepang. Ia menyelesaikan pendidikan SMP di Rengat melalui program ekstranei dan menamatkan SMA Sore di Tanjung Pinang. Pada Februari 1949, di usia 16 tahun, Idrus bergabung dengan TNI sebagai Staf Q Brigade DD d...

B.M. SYAMSUDDIN (1935 ‐ 1937)

Bujang Mat Syamsuddin, yang menggunakan nama pena B.M. Syamsuddin, adalah sastrawan dan pejuang seni tradisi asal Riau. Ia lahir di Sedanau, Kepulauan Natuna, pada 10 Mei 1935. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru Bantu (SGB) di Natuna. Ia melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Tanjungpinang pada pertengahan 1950-an. Selain itu, ia pernah menempuh pendidikan di Jurusan Sastra dan Seni, FKIP Universitas Riau, namun tidak selesai. B.M. Syamsuddin mengawali karier sebagai guru SD dan SMP di Tanjungpinang, Sedanau, dan Pekanbaru (1955–1981). Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Subseksi Tenaga Pendidikan Luar Sekolah di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pekanbaru (1981–1991). Ia juga menjadi dosen luar biasa di FKIP Universitas Islam Riau (1988–1995). Di bidang jurnalistik, ia pernah bekerja untuk majalah Topik (Jakarta), Harian Haluan (Padang), dan Riau Pos . Dalam menulis, ia sering menggunakan nama samaran Mohshab, Dinar Shams, atau Dinar Syam. B.M. Sya...