Posts

CERANA (06.45/2016)

Image
Cerana ini terbuat dari bahan kuningan dengan bentuk  persegi panjang. Bagian atasnya dilengkapi penutup (tutup) yang dapat diangkat, dengan bentuk bertingkat (berundak) dan tepi melebar ke luar. Permukaan tutup dihiasi ukiran atau pahatan bermotif floral dan geometris yang tersusun simetris, dengan ornamen menyerupai sulur-suluran dan bunga di bagian tengah. Hiasan tersebut dibuat dengan teknik ukir atau cetak tekan pada logam.  Bagian badan kotak tampak sedikit meruncing ke bawah, dengan dinding sisi yang dihiasi relief motif sulur atau tumbuhan yang memanjang secara horizontal. Pada bagian bawah terdapat kaki penyangga pendek berbentuk lengkung, sehingga kotak tidak langsung menempel pada permukaan alas.  Secara fungsional, cerana ini digunakan sebagai wadah untuk menyimpan kelengkapan makan sirih, seperti daun sirih, pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Dalam masyarakat Melayu, tempat sirih memiliki fungsi penting dalam adat dan upacara, seperti penyambutan tamu, acar...

UANG KERTAS SERI ORIDA

1. LIMA RUPIAH EMISI 1947 Uang kertas ini berbentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dan berukuran kurang lebih 130 × 75 mm. Secara visual, tampilannya didominasi warna ungu kecokelatan yang memberi kesan tegas sekaligus formal. Teknik cetaknya memperlihatkan detail ornamen dan tipografi yang khas masa revolusi. Nomor seri terdiri atas lima angka dan tiga huruf sebagai penanda keaslian serta pengendalian administrasi peredaran. Pada sisi depan ( o bverse ) tercantum teks utama “TANDA PEMBAJARAN JANG SAH BERLAKU UNTUK DAERAH RIAU” serta nominal “LIMA RUPIAH”. Terdapat pula keterangan tempat dan tanggal penerbitan, yaitu “BUKITTINGGI, 17-12-1947”. Di bagian bawah tertera tanda tangan Mr. Teuku Muhammad Hasan selaku Gubernur Sumatera di atas tulisan “GUBERNUR SUMATERA” dan nama penerbit “REPUBLIK INDONESIA PROPINSI SUMATERA”. Ilustrasi utama berupa figur penari wayang wanita yang ditempatkan di sisi kiri bidang uang. Angka nominal “5” dicantumkan pada sisi kanan serta pada keem...

UANG KERTAS INVASI JEPANG

 1. UANG KERTAS 1 GULDEN "DE JAPANSCHE REGEERING" No. Inv. : 06.1065 Uang kertas ini memiliki bentuk fisik persegi panjang horizontal dengan dimensi ukuran kurang lebih 141×68 mm. Secara visual, uang tersebut didominasi oleh warna cokelat dengan cetakan dasar (underprint) berwarna hijau. Pada bagian tengah sisi depan, terdapat teks utama dalam bahasa Belanda yang berbunyi "DE JAPANSCHE REGEERING BETAALT AAN TOONDER EEN GULDEN", yang bermakna "Pemerintah Jepang membayar kepada pembawa satu gulden". Desain tersebut dilengkapi dengan ilustrasi pohon sukun di sebelah kiri serta pohon kelapa di sebelah kanan, disertai angka nominal "1" yang tercetak besar pada sisi kiri dan kanan uang. Pada bagian bawah tengah sisi depan, tertera kode blok atau seri "S I". Huruf "S" merupakan kode identitas wilayah untuk Sumatra atau Hindia Belanda di bawah naungan Southern Development Bank , sedangkan huruf "I" merujuk pada urutan blok c...

CERANA (03.43/2016)

Image
Cerana ini terbuat dari bahan kuningan dengan penampang berbentuk oktagonal memanjang atau memiliki delapan sisi. Struktur utamanya terdiri atas dua bagian, yaitu wadah dan tutup yang disatukan dengan engsel sehingga dapat dibuka dan ditutup dengan mudah. Bagian penutup dirancang bertingkat dan dihiasi relief garis-garis geometris pada permukaan atasnya. Motif utama yang tampak menyerupai simbol simpul atau bunga empat kelopak yang memanjang secara horizontal, memberikan kesan dekoratif sekaligus mempertegas nilai estetikanya. Secara fungsional, cerana ini digunakan sebagai wadah untuk meletakkan perlengkapan menyirih, seperti pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Kehadirannya tidak hanya sebagai perlengkapan rumah tangga, tetapi juga memiliki makna sosial dalam tradisi masyarakat Melayu, terutama dalam penyambutan tamu atau upacara adat. Berdasarkan bentuk dan gaya hiasannya, cerana ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 Masehi.

KENDI (08.586.2016)

Image
Kendi ini terbuat dari tanah liat berglasir dan terdiri atas tiga bagian utama, yaitu badan, leher, dan gagang. Bagian badan berbentuk bulat lebar sebagai ruang utama penampung air, sedangkan lehernya relatif pendek dengan bibir mulut ( rim ) yang sedikit melebar ke luar untuk memudahkan proses penuangan. Pada sisi samping terdapat gagang yang melengkung dan dilapisi lilitan rotan, sehingga memberikan cengkeraman yang lebih kuat serta mencegah tangan tergelincir saat digunakan. Seluruh badan kendi dibungkus dengan jaring-jaring yang terbuat dari jalinan serat alam, seperti rotan atau mendong, yang disusun saling mengunci. Anyaman ini berfungsi sebagai pelindung dari benturan sekaligus memperkuat struktur luar kendi. Untuk menjaga kestabilannya, kendi diletakkan di atas piringan anyaman rotan (lepa) sebagai dudukan agar bagian dasarnya tidak langsung bersentuhan dengan tanah atau permukaan keras lainnya.  Secara fungsional, kendi ini digunakan sebagai wadah air minum harian yang ma...

TEMPAT NIRA (08.511.2016)

Image
  Wadah ini terbuat dari tanah liat dan berbentuk bulat menyerupai globus (globular). Permukaan luarnya dibungkus dengan lilitan tali yang berfungsi sebagai pelindung dari benturan sekaligus memudahkan pegangan saat dipindahkan. Pada bagian atasnya terdapat tutup berbahan kayu yang dihiasi figur antropomorfik berupa patung manusia kecil dalam posisi jongkok. Di bagian kepala figur tersebut tampak ikatan rambut atau bulu yang berdiri tegak sebagai unsur dekoratif sekaligus simbolik. Untuk menjaga kestabilannya ketika diletakkan di permukaan datar, wadah ini ditempatkan di atas piringan anyaman rotan, seperti tampah kecil atau lepa, yang berfungsi sebagai alas penopang. Secara fungsional, wadah ini digunakan untuk menampung dan menyimpan nira, yaitu cairan manis yang disadap dari bunga pohon aren atau palem. Nira tersebut dapat dikonsumsi dalam keadaan segar maupun difermentasi menjadi minuman tradisional yang dikenal sebagai tuak. Selain memiliki fungsi praktis, bentuk dan hiasanny...

BEDUG

Bedug merupakan instrumen perkusi tradisional yang menjadi simbol syiar Islam di Nusantara, khususnya di tanah Melayu. Secara fisik, bedug berbentuk tabung besar dengan badan (selongsong) yang terbuat dari kayu keras dan tahan lama, seperti kayu nangka atau kayu jati. Permukaan badan bedug umumnya dilapisi cat berwarna gelap sebagai pelindung sekaligus memperkuat kesan kokoh. Pada salah satu atau kedua sisi penampangnya dipasang kulit hewan—biasanya kulit sapi atau kerbau—yang telah dikeringkan dan diregangkan dengan sangat kuat. Kulit tersebut dikaitkan pada badan kayu menggunakan rangkaian paku kayu atau pasak yang ditanam mengelilingi tepiannya guna menjaga ketegangan dan kualitas resonansi suara. Dalam tradisi Melayu Riau, bedug tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu salat, tetapi juga sebagai alat komunikasi sosial dan simbol peresmian acara besar keagamaan. Bunyi bedug yang berat dan bergaung menjadi penanda berkumpulnya masyarakat sekaligus isyarat dimulainya suatu kegiata...