SULTAN ASSAIDIS SYARIF HARUN BIN ASSAIDIS SYARIEF HASYIM SYAHBUDIN

Sultan Assaidis Syarif Harun merupakan Sultan Yang di-Pertuan Besar Pelalawan ke-9 sekaligus penguasa terakhir yang memimpin kerajaan tersebut. Lahir pada tahun 1911 dengan nama kecil Tengku Said Harun, ia adalah putra dari Sultan Assaidis Syarif Hasyim II. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu di Siak atas perintah ayahandanya, sebuah langkah persiapan agar ia siap memimpin di masa depan. Meskipun Sultan Hasyim II wafat pada tahun 1930, warisan kepemimpinannya diteruskan oleh putranya ini setelah melewati masa transisi yang cukup panjang.

Sebelum resmi bertakhta, pemerintahan Pelalawan dijalankan oleh seorang pemangku raja karena Sultan Syarif Harun belum cukup dewasa saat ayahandanya wafat. Berdasarkan mufakat Dewan Kerajaan dan persetujuan Hindia Belanda, Tengku Said Usman bin Ubaidillah diangkat sebagai Regent van Pelalawan dengan gelar Tengku Pangeran. Kepemimpinan sementara ini berlangsung selama kurang lebih sepuluh tahun. Setelah Tengku Harun dianggap mampu dan dewasa, Tengku Said Usman menyerahkan mahkota kerajaan dan kemudian memasuki masa pensiun hingga wafat pada tahun 1947 dengan gelar Marhum Budiman.

Era kepemimpinan resmi Sultan Syarif Harun dimulai pada awal tahun 1940 dengan tantangan politik dari pemerintah kolonial Belanda. Tepat pada 24 Januari 1940, ia dinobatkan dengan gelar Assaidis Syarif Harun bin Hasyim Fakhruddin Tengku Besar Raja Kerajaan Pelalawan. Dalam menjalankan birokrasinya, ia menyusun struktur pemerintahan dengan menunjuk Orang-Orang Besar kerajaan untuk menjabat sebagai Distrikhoofd (Kepala Distrik) yang menyandang gelar Datuk. Di sisi lain, ia juga harus menghadapi tekanan politik Belanda yang menyodorkan Korte Verklaring atau kontrak pendek sebagai bentuk kendali kolonial.

Sultan Syarif Harun memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, yang dibuktikan dengan integrasi Kerajaan Pelalawan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasca-pencabutan sistem kerajaan oleh Jepang dan Proklamasi 1945, Sultan beserta pemuka kerajaan secara tegas menyatakan kesetiaan dan bersatu di bawah bendera RI. Beliau tidak hanya memimpin secara simbolis, tetapi juga terjun dalam perjuangan fisik melawan Belanda hingga diangkat menjadi Wedana di Pelalawan. Perjuangan beliau berakhir ketika ia wafat pada 12 November 1959 dengan gelar Marhum Setia Negara, menandai berakhirnya era kesultanan di Pelalawan karena tidak ada lagi penobatan setelahnya.

Comments

Popular posts from this blog

BATU SIPUT

ALAT TRANSPORTASI AIR

ISTANA RAJA ROKAN