TUANKU TAMBUSAI (1784 – 1882)

Tuanku Tambusai merupakan seorang ulama sekaligus panglima perang cerdik yang lahir dengan nama Muhammad Saleh pada 5 November 1784 di Dalu-Dalu, Rokan Hulu. Sebagai putra dari Imam Maulana Kali, seorang wali syara’ di Kerajaan Tambusai, ia ditempa dengan disiplin yang ketat sejak usia tujuh tahun, mulai dari membaca Al-Qur'an, ilmu fiqh, hingga ketangkasan bela diri dan berkuda. Keilmuannya semakin matang setelah ia dikirim ke Bonjol untuk belajar langsung di bawah bimbingan Tuanku Imam Bonjol dan para Paderi, hingga akhirnya ia dianugerahi gelar Pakih Saleh oleh para gurunya.

Peran beliau sebagai pemuka agama di Dalu-Dalu menjadi fondasi utama dalam menggerakkan perlawanan masyarakat terhadap penjajah. Sekembalinya dari Rao, ia mendirikan surau di Negeri Dalu-Dalu yang difungsikan sebagai pusat ibadah, lembaga pendidikan dakwah, sekaligus sarana transformasi ajaran Islam. Di tempat ini, ia secara konsisten memberantas penyakit masyarakat seperti perjudian dan minuman keras, serta berhasil membentuk pasukan tangguh berjumlah sekitar 7.000 orang yang dipersiapkan menjadi prajurit pembela tanah air.

Tuanku Tambusai dikenal sebagai panglima yang memiliki wawasan strategi militer internasional berkat pengalamannya di Tanah Arab. Selama bermukim di Arabia antara tahun 1818 hingga 1821, ia tidak hanya menunaikan ibadah haji, tetapi juga mempelajari teknik perbentengan (Fortification Technics) dari tentara Turki serta menjadi duta gerakan Wahabi. Kecerdikan strateginya terbukti saat ia memimpin pasukan gabungan dari berbagai daerah di Sumatra dan berhasil merebut kembali Bonjol dari tangan Belanda, sebuah pencapaian yang sangat merepotkan pasukan kolonial saat itu.

Kegigihan yang luar biasa dalam melawan Belanda membuat Tuanku Tambusai dijuluki sebagai De Padrische Tijger van Rokan atau Harimau Paderi dari Rokan. Julukan ini diberikan oleh pihak Belanda karena ia dikenal sebagai pejuang yang sangat sulit dikalahkan, konsisten menolak ajakan damai, dan tidak pernah mau menyerah. Keteguhan sikapnya terlihat jelas saat ia menolak mentah-mentah tawaran Kolonel Elout untuk berunding, lebih memilih terus berjuang demi kehormatan agama dan bangsanya.

Benteng Tujuh Lapis atau Kubu Aur Duri merupakan bukti nyata kehebatan Tuanku Tambusai dalam merancang pertahanan yang kokoh. Bangunan yang dibangun pada tahun 1835 ini diperkuat dengan parit dan tanggul bambu berduri, menjadikannya basis pertahanan yang sangat sulit ditembus oleh serangan Belanda berkali-kali. Namun, setelah pengepungan besar-besaran pada Desember 1838, ia akhirnya meloloskan diri melalui pintu rahasia ke Negeri Sembilan, Malaysia, dan wafat di sana pada 12 November 1882 setelah mengabdikan seluruh hidupnya untuk perjuangan.

Dedikasi tanpa kompromi dari Tuanku Tambusai terhadap kedaulatan Indonesia mendapatkan penghormatan tertinggi dari pemerintah Republik Indonesia. Atas jasa-jasanya yang besar, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 7 Agustus 1995 melalui Keputusan Presiden No. 071/TK/Tahun 1995. Gelar ini mengukuhkan posisinya dalam sejarah sebagai salah satu pejuang besar yang semangat nasionalismenya melampaui batas wilayah tempat tinggalnya.

Comments

Popular posts from this blog

BATU SIPUT

ALAT TRANSPORTASI AIR

ISTANA RAJA ROKAN