UANG KERTAS 1 RUPIAH 1954 SERI SUKU BANGSA
No. Inv. : 06.935
![]() |
| Tampak Depan |
![]() |
| Tampak Belakang |
Uang kertas ini berbentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal dan didominasi warna biru kehijauan. Proses pencetakannya menggunakan kombinasi beberapa teknik, yaitu teknik cetak offset untuk latar belakang, teknik cetak intaglio (cetak dalam) untuk gambar utama dan ornamen penting, serta teknik cetak tinggi (letterpress) untuk nomor seri. Selain itu, digunakan pula serat halus yang tertanam dalam kertas sebagai unsur pengaman guna membedakan uang asli dari pemalsuan.
Pada sisi depan (obverse) terdapat visual seorang gadis Jawa sebagai representasi kebudayaan dan keragaman suku bangsa Indonesia. Ilustrasi tersebut dikelilingi ornamen stilisasi daun, bunga, dan burung yang mencerminkan kekayaan flora dan fauna Nusantara. Tulisan yang tercantum meliputi “REPUBLIK INDONESIA”, “TANDA PEMBAJARAN JANG SAH” (menggunakan ejaan lama), “SATU RUPIAH”, tahun emisi "1954", keterangan “MENTERI KEUANGAN”, tanda tangan pejabat yang bersangkutan, serta angka nominal “1”.
Pada sisi belakang (reverse) terdapat lambang negara Garuda Pancasila sebagai simbol kedaulatan dan identitas nasional. Ornamen stilisasi daun dan bunga kembali digunakan sebagai elemen dekoratif. Bagian ini juga memuat tulisan “REPUBLIK INDONESIA”, angka nominal “1”, nomor seri yang terdiri atas tiga huruf dan enam angka sebagai kode kontrol produksi dan distribusi, serta mikro-teks yang berisi peringatan atau ketentuan hukum mengenai pemalsuan uang.
Uang kertas Seri Suku Bangsa dicetak di Percetakan Kebayoran, Jakarta, yang pada masa itu menjadi fasilitas percetakan uang nasional setelah proses nasionalisasi De Javasche Bank. Pencetakannya menggunakan teknologi pengamanan yang relatif maju untuk zamannya.
Uang kertas ini merupakan bagian dari emisi tahun 1954 yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada masa awal konsolidasi sistem moneter nasional. Emisi pertama tahun 1954 ditandatangani oleh Menteri Keuangan saat itu, yaitu Ong Eng Die. Selanjutnya, uang ini dicetak kembali pada tahun 1956 dengan desain yang sama, namun dibedakan melalui tanda tangan Menteri Keuangan yang baru, yaitu Jusuf Wibisono. Perbedaan tanda tangan tersebut menjadi penanda utama antara emisi 1954 dan cetak ulang 1956. Pecahan satu rupiah berperan penting dalam transaksi harian masyarakat, khususnya di pasar tradisional dan kegiatan ekonomi skala kecil, sebelum akhirnya secara bertahap digantikan oleh emisi baru menjelang akhir 1950-an dan awal 1960-an seiring perubahan kebijakan moneter dan meningkatnya inflasi.


Comments
Post a Comment