KAHARUDDIN NASUTION (GUBERNUR KDH. TK.I RIAU KE-II)

Nama Lengkap       Kaharuddin Nasution
Lahir                         : Medan, 23 Juli 1925
Wafat                        : Jakarta, 25 September 1990
Masa Jabatan         : 1960 – 1966

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Kaharuddin Nasution merupakan sosok militer visioner yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia militer, politik, hingga pemerintahan Indonesia. Fondasi intelektualitasnya terbentuk melalui jalur pendidikan yang prestisius pada zamannya, dimulai dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang diselesaikannya pada 1937, lalu berlanjut ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan hingga lulus tahun 1940. Karakter kepemimpinannya semakin terasah setelah ia dikirim oleh orang tuanya ke Indonesisch-Nederlandsche School (INS) Kayutanam, sebuah institusi pendidikan ternama di bawah asuhan Inyiek Mohammad Syafei yang dikenal sangat menekankan kemandirian dan watak bangsa.

Memasuki kancah militer, ia meniti karier cemerlang dengan terlibat langsung dalam periode revolusi fisik. Setelah menjabat sebagai Komandan Kompi Batalyon Nasuhi (1945–1948), ia dipercaya memimpin unit-unit elit seperti Batalyon 303/Setya Perlaya Siliwangi serta menjadi Direktur Battle Training Camp I. Puncak karier militernya diisi dengan jabatan-jabatan strategis, termasuk menjadi Komandan RPKAD (1956–1958), Panglima Kodam XIII/Merdeka (1967–1971), hingga mencapai posisi Inspektur Jenderal TNI Angkatan Darat (1971–1973). Pengalaman tempur dan manajerial di lapangan hijau inilah yang kemudian menjadi modal utama ketika ia bertransformasi menjadi seorang administrator pemerintahan yang ulung.

Darma bakti beliau di dunia pemerintahan dimulai dengan peran fundamentalnya sebagai Gubernur Riau (1960–1966), di mana ia memprakarsai pemindahan ibu kota Provinsi Riau dari Tanjung Pinang ke Pekanbaru pada tahun 1959. Selama masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Riau, ia tidak hanya dikenal sebagai pemimpin administratif, tetapi juga peletak fondasi kemajuan daerah melalui pembangunan infrastruktur dasar, termasuk merintis berdirinya Stadion Rumbai yang hingga kini menjadi ikon olahraga di Bumi Lancang Kuning. Selain itu, Ia juga memajukan dunia pendidikan dengan menjabat sebagai Pimpinan Universitas Islam Riau (UIR) pada periode 1962–1965 dan sebagai Ketua Dewan Rektor Universitas Negeri Riau (UNRI) pada periode 1963–1967.

Karier dan pengabdiannya tidak berhenti di Bumi Lancang Kuning; ia sempat mengemban amanah sebagai Inspektur Jenderal Departemen Penerangan RI (1973–1982) sebelum akhirnya terpilih menjadi Gubernur Sumatera Utara periode 1983–1988. Atas dedikasinya yang luar biasa bagi kedaulatan negara, ia dianugerahi Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI pada tahun 1981 oleh Menteri Pertahanan Keamanan. Setelah wafat, beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara.

Comments

Popular posts from this blog

BATU SIPUT

ALAT TRANSPORTASI AIR

ISTANA RAJA ROKAN