UANG KERTAS 25 SEN 1964 SERI SUKARELAWAN
![]() |
| Tampak Depan |
![]() |
| Tampak Belakang |
Ukuran : 104 mm x 55 mm
Emisi : 1964
Pengaman : Serat Halus
Masa Peredaran : 1964 sampai dengan 1966
Uang kertas ini memiliki bentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal, didominasi oleh warna merah bata yang dicetak pada kertas khusus berserat halus sebagai fitur pengaman. Kualitas cetaknya sangat diperhatikan dengan menggunakan kombinasi teknik yang canggih, yakni terdiri dari cetak offset untuk latar belakang, cetak intaglio (cetak dalam) yang memberikan tekstur timbul nan khas pada gambar utama dan ornamen penting, serta cetak tinggi (letterpress) yang tajam untuk pencetakan nomor seri.
Pada sisi depan (obverse), uang kertas ini menampilkan potret seorang sukarelawan pria mengenakan topi militer yang menghadap ke arah kiri sebagai fokus utama dengan latar belakang pola garis-garis gelombang horizontal yang rapat. Identitas otoritas penerbit ditegaskan melalui teks "BANK INDONESIA" di bagian atas, sementara nilai nominal angka "25" dan teks "DUA PULUH LIMA SEN" tertera dengan jelas di bagian bawah. Sisi ini juga memuat tanda tangan resmi Gubernur dan Direktur Bank Indonesia, dengan keterangan pencetak "P.N. PERTJETAKAN KEBAJORAN" pada tepi bawah. Angka nominal kembali muncul di sudut kanan atas yang diikuti oleh angka tahun emisi "1964" tepat di bawahnya.
Pada sisi belakang (reverse), uang ini menampilkan ornamen geometris yang sangat kompleks berupa dua buah mandala atau pola roset melingkar menyerupai bunga matahari yang diletakkan di atas latar belakang pola garis-garis diagonal halus. Angka nominal "25" ditempatkan di tiga titik, yakni sudut kiri atas, sudut kiri bawah, serta di dalam bingkai roset pada sisi kanan. Sebagai bentuk perlindungan hukum, sudut kanan bawah memuat teks peringatan mengenai sanksi bagi pemalsu uang. Keamanan dan administrasi peredaran uang ini ditunjang oleh nomor seri unik yang terdiri dari kombinasi tiga huruf dan enam angka.
Diterbitkan oleh Bank Indonesia, uang kertas Seri Sukarelawan ini merupakan simbol dari semangat bela negara dan mobilisasi rakyat pada era konfrontasi "Dwikora". Dicetak oleh Percetakan Kebayoran di Jakarta dan ditandatangani oleh Jusuf Muda Dalam selaku Gubernur Bank Indonesia serta Hertatijanto selaku Direktur, uang ini merepresentasikan identitas nasional yang militeristik sebagai alat propaganda sekaligus alat pembayaran sah. Namun, seiring dengan menurunnya daya beli pecahan kecil akibat inflasi, uang ini secara resmi ditarik dari peredaran pada 15 November 1996 sebagai bagian dari kebijakan penyederhanaan mata uang nasional.


Comments
Post a Comment