SOEMAN Hs. (1904 - 1999)
SANG MAESTRO SASTRA DAN ARSITEK PENDIDIKAN RIAU
Soeman
Hasibuan, yang lebih dikenal
dengan nama pena Soeman Hs., merupakan sosok fenomenal yang merajut
sejarah sebagai sastrawan angkatan Balai Pustaka sekaligus tokoh pendidik
legendaris. Lahir pada 4 April 1904 di Desa Bantan Tua, Bengkalis, Riau, ia
tumbuh menjadi pribadi yang haus akan ilmu. Setelah menyelesaikan Sekolah
Melayu pada 1918, Soeman merantau ke Medan untuk belajar di Normaal Cursus.
Di sanalah ia mulai mengasah kemampuannya dengan belajar sambil mengajar,
hingga akhirnya terpilih melanjutkan ke sekolah guru Normaal School di
Langsa, Aceh, dan lulus pada tahun 1923.
Peristiwa
penting dalam perjalanan kariernya dimulai saat ia resmi menjadi guru HIS
bidang studi Bahasa Melayu di Siak Sri Indrapura pada tahun 1923. Di sela-sela
kesibukannya sebagai pendidik, Soeman Hs. Mulai menulis. Saat dipindahkan ke
Pasir Pengaraian, Rokan Hulu, ia berhasil merampungkan novel pertamanya, Kasih
Tak Terlarai (1929). Dalam kurun waktu 12 tahun pertama pengabdiannya
sebagai guru, produktivitasnya sungguh luar biasa; ia melahirkan lima novel,
satu kumpulan cerita pendek, serta puluhan puisi dan cerpen yang mewarnai
majalah Pandji Poestaka dan Poedjangga Baroe.
Karya-karya
Soeman dikenal unik karena menyisipkan unsur suspens, humor, fiksi detektif,
hingga petualangan Barat ke dalam sastra Melayu klasik. Novel paling
populernya, Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan (1932), menjadi bukti
kepiawaiannya meramu cerita. Selain itu, karyanya yang berjudul Teboesan
Darah (1939) menghidupkan kembali karakter ikonik Sir Joon. Puncaknya, pada
1941, kumpulan cerita pendeknya yang bertajuk Kawan Bergeloet
diterbitkan, mengukuhkan namanya sebagai salah satu pelopor penulis cerita
pendek dalam kanon sastra Indonesia.
Memasuki
masa pendudukan Jepang dan revolusi, Soeman tidak hanya berdiri di depan kelas,
tetapi juga terjun ke kancah politik sebagai anggota dewan perwakilan dan
bagian dari Komite Nasional Indonesia. Setelah kedaulatan Indonesia diakui pada
1949, ia diamanahi tugas besar sebagai kepala cabang regional Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan di Pekanbaru. Dengan tangan dinginnya, ia memimpin
proyek kerja komunal untuk memulihkan fasilitas pendidikan yang hancur
pasca-perang. Ia berperan vital dalam mendirikan SMP swasta pertama (1953), SMA
Setia Dharma (1954), hingga membidani lahirnya Universitas Islam Riau (UIR)
pada 1962.
Bahkan
setelah pensiun, dedikasi Pak Soeman terhadap dunia pendidikan dan sosial tidak
pernah luntur. Ia aktif memimpin berbagai yayasan pendidikan Islam dan lembaga
budaya, serta sempat menjabat sebagai anggota DPRD Riau pada 1966. Perjalanan
panjang sang "Komandan Pangkalan Gerilya" ini berakhir ketika ia
wafat di Pekanbaru pada 8 Mei 1999. Sebagai bentuk penghormatan atas
jasa-jasanya, Pemerintah Provinsi Riau mengabadikan namanya pada perpustakaan
termegah di Indonesia, Perpustakaan Soeman Hs., dan memberinya
penghargaan Anugerah Sagang Kencana (2010) sebagai simbol abadi pengabdiannya
bagi nusa dan bangsa.
Comments
Post a Comment