IDRUS TINTIN (1932 - 2003)

Jejak Sang "Seniman Pemangku Negeri"

Lahir di Rengat pada 10 November 1932, tepat saat Indonesia masih berjuang merebut kemerdekaannya, Idrus Tintin tumbuh besar dalam dekapan tradisi Melayu Riau yang kental. Ayahnya, Tintin, berasal dari Lubuk Ambacang (Kuantan Singingi), sementara ibunya, Tiamah, merupakan perempuan asal Penyimahan yang menetap di Enok Dalam (Indragiri Hilir). Sosok yang akrab dipanggil "Derus" ini memulai pengembaraan hidupnya sejak kecil, berpindah dari Rengat ke Tarempa untuk menempuh Sekolah Rakyat. Namun, badai perang mengubah segalanya. Ayahnya gugur dalam peristiwa bombardir Jepang di Tarempa, memaksa Idrus remaja pindah ke Tanjung Pinang pada 1941. Di tengah situasi sulit itu, ia sempat bersekolah di Shoto Chu Gakko (setingkat SMP) namun tidak tuntas, hingga akhirnya dititipkan sang ibu di asrama anak yatim Dai Toa Kodomo Ryo milik Jepang.

Tak disangka, asrama inilah yang menjadi panggung pertama bagi bakat seninya. Idrus mulai mengenal dunia drama dan direkrut oleh grup pimpinan Raja Khatijah. Karena kepiawaiannya berakting sekaligus kefasihannya berbahasa Jepang, ia bahkan dipercaya bekerja di Sentral Telepon dan Biro Okabutai pada 1943. Meski sibuk bekerja, Idrus tak pernah jauh dari panggung; ia sempat mementaskan drama pendek berjudul Noserang yang mengisahkan getirnya hidup petani dan nelayan. Setelah melewati masa sekolah yang berpindah-pindah—mulai dari Sekolah Muhammadiyah Tembilahan, SMP Rengat bersama grup teater SEMI, hingga SMA Sore Tanjung Pinang—Idrus sempat mengambil jalur hidup yang cukup kontras. Di usia 16 tahun (1949), ia bergabung dengan TNI dan menjadi Staf Q Brigade DD. Meski memegang senjata, ia tetap mendirikan sanggar sandiwara Gurinda di Tarempa pada 1952.

Perjalanan karier Idrus sempat menyentuh dunia birokrasi saat ia menjadi pegawai negeri dan berhasil menjabat sebagai Kepala Kantor Sosial Kewedanan Pulau Tujuh pada 1954. Namun, gelora seni dalam dirinya terlalu kuat untuk dibendung. Setelah tiga tahun menjabat, ia memilih mengundurkan diri demi totalitas di dunia seni. Ia pun pindah ke Tanjung Pinang dan membentuk kelompok teater non-formal bersama Hanafi Harun pada 1958. Di sanalah ia memainkan puluhan naskah buatannya sendiri seperti Buih dan Kasih Sayang Orang Lain, Bunga Rumah Makan, serta Awal dan Mira. Puncak awal kesuksesannya terjadi saat ia berkolaborasi dengan seniman Jakarta, Ghalib Husein, mementaskan lakon Pasien (1959) di depan RRI Tanjung Pinang, yang membuat kelompoknya banjir undangan pemerintah.

Tahun 1959 menjadi tonggak penting saat Idrus merantau ke Pulau Jawa. Pertemuannya dengan tokoh-tokoh besar seperti Rendra, Asrul Sani, dan Teguh Karya membukakan pintu bagi Idrus untuk memperkenalkan konsep teater modern di Riau, mendobrak batasan sandiwara tradisional yang selama ini terkesan tertutup. Setelah belajar teater non-formal demi mengejar mimpi masuk ASDRAFI dan menimba ilmu pada S. Tossani di Solo, ia kembali ke Rengat pada 1960 untuk menikah dan melanjutkan dedikasinya. Namanya semakin harum saat ia dinobatkan sebagai The Best Actor of Riau dalam Festival Drama 1964 di Pekanbaru.

Pindahnya Idrus ke Pekanbaru pada 1966 semakin mengukuhkan posisinya sebagai tokoh sentral seni Riau. Di Balai Dang Merdu dan Balai Artis, ia mementaskan karya-karya monumental seperti Harimau Tingkis (1974), Tanda Silang, hingga Pendekar Pulau Kampai. Bersama Armawi K.H., ia juga mendirikan Teater Bahana (1974) di SMAN 2 Pekanbaru dan nantinya Teater Ku (1997). Puluhan naskah lahir dari tangannya, mulai dari Pelabuhan Terakhir, Menanti Hari Panen, hingga Malam Jahanam. Tak hanya di atas panggung, ia juga dikenal sebagai penyair yang tajam melalui empat antologi puisinya: Luput (1986), Burung Waktu (1990), Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan (1996), dan Jelajah Cakrawala (2003).

Setelah mengabdikan seluruh hidupnya untuk sastra dan teater Melayu, Idrus Tintin menerima penghargaan tertinggi seperti Anugerah Sagang (1996) dan gelar Seniman Pemangku Negeri (2001). Sang maestro berpulang pada 14 Juli 2003 dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Rengat. Namun, warisannya tetap hidup; namanya kini diabadikan sebagai gedung teater megah di Bandar Serai, Pekanbaru, dan pada 2011, negara menganugerahinya Bintang Budaya Parama Dharma atas jasanya yang luar biasa bagi kebudayaan Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

BATU SIPUT

ALAT TRANSPORTASI AIR

ISTANA RAJA ROKAN