H. SOERIPTO (GUBERNUR RIAU PERIODE 1988 - 1998)

Nama Lengkap       : Soeripto
Lahir                         : Madiun, Jawa Timur, 18 November 1934
Masa Jabatan         : 28 Desember 1988 - 28 Desember 1998

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Soeripto adalah seorang purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang memegang peranan krusial sebagai pemimpin dan pembangun di Provinsi Riau. Beliau merupakan Gubernur Riau keenam yang menjabat selama dua periode berturut-turut, yakni pada tahun 1988 hingga 1998. Sosoknya dikenal luas tidak hanya sebagai jenderal yang cakap dan birokrat yang handal, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki kedekatan emosional dengan dunia pers dan memiliki peran strategis di dunia intelijen internasional.

Perjalanan akademik dan kualifikasi militer Soeripto mencerminkan proses penggemblengan yang panjang dalam struktur komando Angkatan Darat. Pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Dasar yang diselesaikan pada tahun 1951, Sekolah Menengah Pertama (1956), hingga jenjang Sekolah Menengah Atas. Beliau merupakan alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang angkatan 1960. Spesialisasi militernya ditempa melalui berbagai kursus kepemimpinan, antara lain Komandan Kompi (Dan Ki) Senapan (1963 dan 1965), Dan Ki Taruna (1963), Pasi 2 Yonif (1967), Wakil Komandan Yonif (1968), Komandan Yonif (1970), hingga Komandan Kodim (1973).

Sebelum terjun ke dunia pemerintahan sipil, Soeripto memiliki rekam jejak karier militer yang sangat cemerlang dengan menduduki berbagai posisi kunci di berbagai wilayah Indonesia. Mengawali dinas pada tahun 1960, ia pernah menjabat sebagai Asisten Intelijen Kodam XVII/Cenderawasih (1974), Wakil Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (1977), dan Asisten Intelijen Kodam VI/Siliwangi (1978). Kariernya terus menanjak dengan pangkat kolonel sebagai Asisten Kowilhan I (1981) dan Kasdam XII/Tanjungpura (1982). Saat berpangkat jenderal, ia dipercaya sebagai Kepala Staf Kostrad (1982), Pangdam III/17 Agustus (1983), Pangdam I Bukit Barisan (1985), hingga mencapai puncak sebagai Panglima Kostrad (1986) berpangkat Mayor Jenderal, serta menjabat Ketua Fraksi ABRI di DPR RI (1987).

Masa jabatan Soeripto sebagai Gubernur Riau ditandai dengan visi modernisasi informasi dan pola kepemimpinan yang komunikatif. Terpilih melalui pemilihan oleh DPRD Provinsi Riau dengan perolehan 35 dari 45 suara, ia didampingi oleh dua wakil gubernur, yakni Firdaus Malik (yang kemudian digantikan oleh Rivai Rachman) dan Rustam S. Abrus. Salah satu warisan terbesarnya adalah dukungannya terhadap pendirian Riau Pos sebagai surat kabar harian pertama di Riau, di mana ia berperan sebagai Ketua Yayasan Riau Makmur. Karakter beliau yang ramah dan suportif menjadikannya tokoh yang sangat dihormati oleh kalangan jurnalis di Bumi Lancang Kuning.

Pembangunan infrastruktur budaya dan fasilitas publik menjadi prioritas selama masa baktinya, meskipun akhir kepemimpinannya diwarnai oleh dinamika politik nasional. Soeripto memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat identitas budaya daerah dengan membangun kawasan Purna MTQ (yang kini dikenal sebagai Bandar Seni Raja Ali Haji) serta Taman Budaya di Pekanbaru. Namun, di penghujung masa jabatannya, beliau harus menghadapi masa transisi Reformasi yang berimbas pada munculnya gelombang demonstrasi yang menuntut dirinya untuk mundur dari jabatan gubernur.

Kehidupan Soeripto juga diwarnai oleh sisi lain sebagai tokoh intelijen yang berani serta didukung oleh kehidupan keluarga yang harmonis. Beliau tercatat memiliki peran dalam operasi luar negeri yang berisiko, termasuk keterlibatannya dalam penyelundupan senjata untuk membantu pejuang Muslim di Bosnia pada era 1990-an. Beliau wafat pada 7 Januari 2010 di usia 75 tahun di Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata. Perjalanan hidupnya didampingi oleh istrinya, Hj. Titiek Moerniati Soeripto, seorang tokoh organisasi kewanitaan yang aktif mendukung tugas suami hingga wafat pada usia 85 tahun pada 28 November 2023.

Comments

Popular posts from this blog

BATU SIPUT

ALAT TRANSPORTASI AIR

ISTANA RAJA ROKAN