H. ARSYADJULIANDI RACHMAN (GUBERNUR RIAU) (2016 - 2018)
Lahir : Pekanbaru, 8 Juli 1960
Masa Jabatan : 25 Mei 2016 - 20 September 2018
Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, MBA, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Andi Rachman, adalah seorang politikus terkemuka sekaligus pengusaha sukses yang berbasis di Riau. Pria berdarah Minangkabau ini dikenal sebagai sosok yang mampu mengolaborasikan ketajaman naluri bisnis dengan strategi politik yang mumpuni. Kehadirannya di panggung kepemimpinan Riau menandai era transisi menuju tata kelola birokrasi yang lebih modern dan transparan di Bumi Lancang Kuning.
Pendidikan Andi Rachman menempuh jalur yang sangat solid, mulai dari sekolah dasar di Pekanbaru hingga meraih gelar magister di Amerika Serikat. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 14 Pekanbaru (1972), dilanjutkan ke SMPN 4 Bukittinggi (1975), dan SMAN 3 Yogyakarta (1980) setelah sempat menempuh studi di SMAN 1 Bukittinggi. Jenjang pendidikan tingginya diselesaikan di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada 1985, yang kemudian diperkuat dengan gelar MBA fokus Manajemen Bisnis dari Oklahoma City University, Amerika Serikat (1987).
Kesuksesan Andi Rachman di dunia usaha dibangun melalui kegigihan dan keuletan dalam mengelola Group Riau Muda hingga menjadi pengusaha papan atas. Di bawah naungan grup tersebut, ia menguasai berbagai sektor bisnis strategis meliputi transportasi, SPBU, pertambangan, hingga perkebunan yang menyerap ribuan tenaga kerja. Kapasitas finansialnya sebagai pengusaha sukses tercermin saat KPU Riau mengumumkan kekayaan tunainya mencapai Rp132 Miliar ketika maju dalam kontestasi politik daerah.
Sebagai pemimpin di berbagai organisasi kewirausahaan, Andi Rachman secara gigih memperjuangkan porsi proporsional bagi pelaku usaha lokal dalam kue pembangunan. Ia tercatat pernah memimpin Hiswana Migas Riau, menjadi Ketua HIPMI Riau (1989), serta menjabat Ketua Kadin Riau selama dua periode (2001–2011) hingga akhirnya dipercaya sebagai Wakil Ketua Kadin Indonesia pada 2009. Salah satu keberhasilan monumentalnya adalah menginisiasi pembentukan Local Business Development (LBD) di PT CPI serta mendorong kebijakan pemerintah daerah untuk mengutamakan pengusaha tempatan dalam pengadaan barang dan jasa.
Transisi Andi Rachman ke dunia politik praktis melalui Partai Golkar membawanya pada peran strategis di tingkat nasional sebagai anggota DPR-RI periode 2009–2014. Selama duduk di Komisi VII yang membidangi energi dan sumber daya mineral, ia memperjuangkan program kelistrikan Riau yang didanai APBN, seperti pembangunan pembangkit listrik di Kepulauan Meranti, Dumai, Pelalawan, Rokan Hilir, serta percepatan PLTU Tenayan Raya. Di sisi lain, ia juga aktif dalam isu lingkungan melalui program penanaman pohon produktif, pendirian Bank Sampah, dan pengenalan teknologi tepat guna bagi petani serta UMKM.
Kepemimpinan Andi Rachman di tingkat eksekutif dimulai dari jabatan Wakil Gubernur hingga akhirnya dilantik menjadi Gubernur Riau definitif pada 25 Mei 2016. Terpilih bersama Annas Maamun dalam Pemilukada 2013, ia mulai menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur sejak September 2014 sebelum akhirnya resmi menggantikan posisi gubernur sebelumnya. Dalam kurun waktu empat tahun kepemimpinannya, ia berhasil membawa perubahan signifikan dalam aspek administrasi dan manajemen birokrasi di Provinsi Riau.
Selama menjabat sebagai Gubernur, Andi Rachman fokus pada reformasi tata kelola keuangan serta pembenahan infrastruktur strategis daerah. Keberhasilan ini dibuktikan dengan raihan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI secara berturut-turut serta penyelesaian proyek-proyek infrastruktur yang sempat terbengkalai. Selain itu, di bawah komandonya, Riau berhasil mempertahankan status bebas asap akibat kebakaran hutan selama dua tahun (2016–2017), sebuah prestasi yang mendapat apresiasi langsung dari Presiden Joko Widodo.
Andi Rachman meletakkan fondasi kuat bagi masa depan ekonomi Riau dengan mengalihkan fokus ketergantungan sumber daya alam menuju sektor pariwisata dan pendidikan. Ia meluncurkan tagline ikonik "Riau The Homeland of Melayu" untuk memposisikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu dunia, sekaligus mempromosikan destinasi unggulan seperti Bono di Teluk Meranti dan Candi Muara Takus. Di bidang sumber daya manusia, ia menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam KUA-PPAS APBD Riau guna meningkatkan kualitas kompetensi masyarakat di masa depan.
Comments
Post a Comment