B.M. SYAMSUDDIN (1935 ‐ 1937)
Bujang Mat Syamsuddin, yang menggunakan nama pena B.M. Syamsuddin, adalah sastrawan dan pejuang seni tradisi asal Riau. Ia lahir di Sedanau, Kepulauan Natuna, pada 10 Mei 1935. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru Bantu (SGB) di Natuna. Ia melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Tanjungpinang pada pertengahan 1950-an. Selain itu, ia pernah menempuh pendidikan di Jurusan Sastra dan Seni, FKIP Universitas Riau, namun tidak selesai.
B.M. Syamsuddin mengawali karier sebagai guru SD dan SMP di Tanjungpinang, Sedanau, dan Pekanbaru (1955–1981). Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Subseksi Tenaga Pendidikan Luar Sekolah di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pekanbaru (1981–1991). Ia juga menjadi dosen luar biasa di FKIP Universitas Islam Riau (1988–1995). Di bidang jurnalistik, ia pernah bekerja untuk majalah Topik (Jakarta), Harian Haluan (Padang), dan Riau Pos. Dalam menulis, ia sering menggunakan nama samaran Mohshab, Dinar Shams, atau Dinar Syam.
B.M. Syamsuddin adalah penulis produktif yang menghasilkan lebih
dari seratus cerpen, puisi, naskah drama, dan buku. Ciri khas karyanya adalah
penggunaan kosakata Melayu lama dan penggambaran perkampungan Melayu yang
eksotik. Berikut adalah daftar karyanya:
- Cerita Rakyat & Roman Sejarah: Batu Belah Batu Bertangkup (1982), Si Kelincing (1983), Harimau Kuala (1983), Ligon (1984), Jalak (1982), Tun Biajid I & II (1983), Braim Panglima Kasu Barat (1984), dan Cerita Rakyat Daerah Riau (1993).
- Buku Pendidikan & Seni: Dua Beradik Tiga Sekawan (1982), Mendu Kesenian Rakyat Natuna (1981), Seni Teater Tradisional Mak Yong (1982), serta Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995).
- Cerpen: Cengkeh pun Berbunga di Natuna (Cerpen Pilihan Kompas 1991), Perempuan Sampan (1990), Toako (1991), Kembali ke Bintan (1991), Gadis Berpalis (1992), dan Jiro San, Tak Elok Menangis (1992).
- Naskah Drama & Cerbung: Fatimah Sri Gunung (1972), Tunggul (1981), serta cerita bersambung Perkawinan di Atas Gelombang (1979) dan Ombak Bersabung (1980).
Ia aktif memperjuangkan kelestarian teater tradisional Melayu seperti Makyong, Mendu, dan Bangsawan melalui berbagai forum, termasuk Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) dan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). B.M. Syamsuddin meninggal dunia pada 20 Februari 1997 di Bukittinggi dan dimakamkan di Pekanbaru. Sebagai bentuk penghormatan, namanya diabadikan menjadi salah satu ruang di kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji (Purna MTQ), Pekanbaru.
Comments
Post a Comment