B.M. SYAMSUDIN

Bujang Mat Syamsuddin, atau yang lebih dikenal dengan nama pena B.M. Syamsuddin, merupakan sosok sastrawan sekaligus pejuang seni tradisi yang mendedikasikan hidupnya untuk tanah Riau. Lahir di Sedanau, Kepulauan Natuna, pada 10 Mei 1935, perjalanan intelektualnya dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru Bantu (SGB) di kampung halamannya. Bakat kesastraannya mulai terlihat saat ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Atas (SGA) Tanjungpinang pada pertengahan 1950-an. Meski sempat mengecap bangku kuliah di Jurusan Sastra dan Seni, FKIP Universitas Riau, ia tidak menyelesaikan studinya di sana, namun gairah seninya justru semakin membara.

Langkah pengabdiannya dimulai sebagai pendidik, di mana ia mengajar di berbagai SD dan SMP di Tanjungpinang, Sedanau, hingga Pekanbaru dalam rentang tahun 1955 hingga 1981. Karier birokrasinya kemudian menanjak saat ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Subseksi Tenaga Pendidikan Luar Sekolah di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kodya Pekanbaru (1981-1991), sembari tetap membagikan ilmunya sebagai dosen luar biasa di FKIP Universitas Islam Riau (1988-1995). Di sela-sela kesibukan tersebut, B.M. Syam—begitu ia akrab disapa—aktif di dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan majalah Topik (Jakarta), koresponden Harian Haluan (Padang), hingga akhirnya bergabung dengan Riau Pos di penghujung hayatnya. Dalam berkarya, ia sering menggunakan nama samaran yang khas seperti Mohshab, Dinar Shams, dan Dinar Syam.

Dunia sastra mengenalnya sebagai sosok yang sangat produktif, dimulai dengan guratan puisi-puisi sebelum akhirnya merambah ke berbagai genre. Keahliannya dalam menulis naskah lakon terbukti melalui karya seperti Fatimah Sri Gunung (1972), Payung Orang Sekampung-kampung (1975), Waning Bulan (1980), dan Tunggul (1981). Ia juga piawai merajut cerita bersambung di Harian Haluan seperti Perkawinan di Atas Gelombang (1979) dan Ombak Bersabung (1980). Sebagai cerpenis, ia telah melahirkan lebih dari seratus karya yang menghiasi media nasional dan daerah seperti Kompas, Suara Karya, hingga Sagang. Salah satu pencapaian puncaknya adalah cerpen "Cengkeh pun Berbunga di Natuna" yang terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1991 dan dibukukan dalam Kado Istimewa (1992). Deretan cerpen lainnya yang ikonik meliputi Perempuan Sampan (1990), Toako (1991), Kembali ke Bintan (1991), serta sejumlah karya di tahun 1992 seperti Gadis Berpalis, Nang Nora, dan Jiro San, Tak Elok Menangis.

Tak hanya cerpen, B.M. Syam meninggalkan warisan literatur yang luas melalui buku-buku cerita rakyat, roman sejarah, dan buku pendidikan. Kontribusinya dalam pelestarian tradisi terekam dalam Mendu Kesenian Rakyat Natuna (1981), Seni Teater Tradisional Mak Yong (1982), hingga Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995). Dalam balutan roman sejarah, ia melahirkan Jalak (1982), Tun Biajid I & II (1983), serta Braim Panglima Kasu Barat (1984). Ia juga mengemas cerita rakyat dengan apik melalui Batu Belah Batu Bertangkup (1982), Si Kelincing (1983), Harimau Kuala (1983), Ligon (1984), dan Cerita Rakyat Daerah Riau (1993). Gaya bahasanya yang mengalun bak lagu dengan kosakata Melayu lama yang eksotik menjadi ciri khas yang memperkaya khazanah bahasa Indonesia.

Lebih dari sekadar penulis, ia adalah pejuang kebudayaan yang turun langsung menghidupkan teater tradisional seperti Makyong dan Bangsawan. Perjuangannya melintasi berbagai dekade, mulai dari panggung Taman Ismail Marzuki pada 1970-an hingga keterlibatannya di Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) serta Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) pada 1990-an. B.M. Syamsuddin terus menulis hingga akhir hayatnya sebelum menghembuskan napas terakhir pada Jumat, 20 Februari 1997 di RS Ahmad Muchtar, Bukittinggi. Jenazahnya dimakamkan di Pekanbaru, dan untuk mengenang jasa besarnya, namanya kini diabadikan sebagai salah satu ruang di gedung utama kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji (Purna MTQ).

Comments

Popular posts from this blog

BATU SIPUT

ALAT TRANSPORTASI AIR

ISTANA RAJA ROKAN