TUNGKU MASAK
Kompor tungku tradisional merupakan alat masak yang telah digunakan oleh ibu rumah tangga sejak masa lampau dan dibuat dari bahan tanah liat yang dibakar keras. Alat ini memiliki desain sederhana yang terdiri dari tiga bagian utama: bagian badan, sarangan (ruang pembakaran), dan mulut (jalur udara). Bagian badan umumnya berbentuk silinder dengan bagian atas yang lebih lebar daripada bagian bawah. Kompor tungku ini sangat penting bagi otentisitas rasa pada banyak masakan tradisional karena menggunakan arang atau kayu bakar, yang menghasilkan aroma asap (smoky) yang unik dan meresap ke dalam masakan.
Sarangan adalah bagian atas tungku masak yang menjadi fokus tempat panas dan berfungsi sebagai ruang bakar tempat arang diletakkan. Pada tepi atas sarangan terdapat tiga tonjolan yang berfungsi sebagai dudukan untuk menopang wadah masak (panci, wajan, atau kuali), memastikan wadah masak tidak menutupi seluruh lubang udara. Di bagian dasar ruang bakar terdapat lubang-lubang kecil yang berfungsi ganda: mengalirkan udara dari bawah agar mencapai semua bagian arang, dan membiarkan abu hasil pembakaran jatuh ke ruang penampungan. Sementara itu, bagian mulut berupa lubang besar berbentuk setengah lingkaran atau persegi panjang yang terletak di bagian bawah badan anglo. Mulut ini merupakan jalur masuk utama bagi oksigen yang mendorong proses pembakaran arang. Semakin baik sirkulasi udara yang masuk melalui mulut, semakin stabil dan panas bara api yang dihasilkan, sekaligus menjadi akses untuk membersihkan sisa abu di bagian dasar.
Tungku masak ini bekerja dengan prinsip sederhana, yaitu menggunakan pembakaran arang dengan memanfaatkan aliran udara alami. Arang dimasukkan ke sarangan, lalu api dinyalakan menggunakan potongan kayu kecil sebagai pemancing. Lubang udara di bagian bawah tungku memiliki peran vital dalam membantu aliran oksigen, yang berfungsi menjaga arang tetap menyala stabil. Panas dari arang kemudian menyebar ke seluruh permukaan wadah masak. Intensitas panas dapat dikontrol secara manual dengan menambah atau mengurangi jumlah arang, serta mengatur intensitas aliran udara dari lubang angin di bagian mulut. Alat ini biasanya digunakan perempuan untuk kebutuhan sehari-hari seperti menjerang, merebus, menggoreng, dan mengukus. Perempuanlah yang secara tradisional menguasai keterampilan mengatur panas arang dan suhu masakan, sebuah keahlian yang menuntut kesabaran dan kepekaan, mencerminkan ketekunan dan kehangatan peran domestik yang diwariskan dari ibu ke anak perempuan.
Comments
Post a Comment