PERIUK
No. Inv. : 03.125/2016
Periuk merupakan jenis alat masak konvensional dan wadah tradisional yang fungsi utamanya adalah sebagai penanak nasi. Alat ini terbuat dari logam kuningan yang bentuknya silinder dengan alas datar dan bagian tengah badan melebar. Untuk memudahkan pengangkatan atau penggantungan kala panas, badan periuk memiliki dua cantelan melingkar pada sisi kanan dan kirinya, yang berfungsi sebagai tempat mengaitkan tali atau kawat. Periuk ini dilengkapi tutup bundar pipih yang memiliki pegangan (knop) bulat kecil di tengahnya. Periuk logam telah memiliki riwayat penggunaan yang panjang dan luas di Nusantara, dimulai sejak era kerajaan hingga awal kemerdekaan, dan kepemilikannya identik dengan masyarakat yang mampu membeli atau mudah mengakses bahan dasar logam kuningan atau tembaga.
Mekanisme memasak periuk beroperasi berdasarkan prinsip dasar perpindahan panas konduksi. Sebagai alat masak konvensional, periuk diletakkan langsung di atas sumber panas, seperti kompor tungku tradisional. Karena terbuat dari kuningan—logam dengan konduktivitas termal tinggi—panas api yang diterima periuk akan disalurkan ke seluruh permukaan secara cepat dan merata. Hal ini menjamin masakan, terutama nasi, matang dengan sempurna dan tidak mudah gosong, asalkan suhu api dijaga. Tutup periuk berperan vital dalam memerangkap uap dan panas, yang kemudian menciptakan tekanan lebih tinggi dan menjaga suhu internal pada level optimal agar beras termasak efektif menjadi nasi. Proses menanak nasi dengan periuk ini memerlukan dua langkah penting: perebusan (memasak) dan pengukusan (mengaron). Berbeda dengan rice cooker modern yang menggunakan sensor termal untuk otomatisasi, periuk beroperasi secara manual dan sederhana, menuntut pengguna untuk melakukan kontrol penuh terhadap api dan waktu memasak.
Dalam konteks budaya tradisional, periuk memiliki signifikansi yang melampaui fungsi fisik. Secara historis, perempuan memegang tanggung jawab utama mengurus dapur dan makanan keluarga, menjadikan periuk sebagai alat krusial yang mereka gunakan. Keberhasilan menanak nasi dengan periuk sering menjadi tolok ukur kemahiran perempuan dalam urusan rumah tangga. Penggunaan periuk ini menuntut keahlian dan kehati-hatian tertentu, di mana perempuan harus mahir mengatur dan mengontrol suhu tungku (dengan kayu atau arang) demi menghindari nasi cepat gosong saat proses mengaron. Lebih dari sekadar alat, periuk menjadi representasi identitas sosial perempuan sebagai penjaga gizi keluarga, dan keterampilan menanak nasi yang tepat diwariskan secara turun-temurun dari ibu kepada anak perempuan, menandai transisi ke peran kedewasaan dan tanggung jawab rumah tangga. Periuk juga sering dimanfaatkan untuk memasak dalam skala besar di acara-acara adat, dengan perempuan sebagai koordinator tim masak (rewang). Periuk yang mengkilap dan terawat baik juga menjadi indikator visual kerapian dan kebersihan dapur pemiliknya.

Comments
Post a Comment