Posts

Showing posts from December, 2025

SENDOK

Image
  No. Inv. : 03.1402/2016 Sendok ini adalah salah satu perlengkapan dapur tradisional yang terbuat dari kuningan, memiliki penampang berbentuk bundar yang lebar dan cekung, dilengkapi dengan gagang panjang  dan ramping yang terhubung langsung dengan mangkuk sendok. Fungsi utama sendok ini adalah sebagai alat saji serbaguna atau centong, bertugas memindahkan berbagai jenis makanan dalam jumlah besar, dari wadah masak atau wadah saji besar (seperti periuk) ke piring masing-masing. Penggunaan sendok saji ini terikat erat dengan peran perempuan yang merupakan pengelola utama tugas domestik dalam rumah tangga. Perempuan bertanggung jawab penuh atas seluruh proses makanan, mulai dari memasak hingga menyajikan. Mereka menggunakan sendok ini sebagai instrumen untuk membagi secara adil nasi, lauk, da n sayur ke piring keluarga, sekaligus memastikan distribusi makanan yang merata dan tercukupinya kebutuhan setiap anggota. Di samping fungsi harian, sendok saji logam ini sangat penting da...

CEPU BERTUTUP (08.201/2016)

Image
No. Inv. : 08.201/2016 Cepu ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki glasir berwarna cream yang mengkilap. Berbentuk bulat datar dan bertutup cembung, bagian badan cepu memiliki gerigi. Cepu ini berasal dari Dinasti Qing abad 17 hingga abad 20 masehi. Cepu ini biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga seperti wadah bedak dan obat.   T : 6 cm, D : 3,4 cm Cina, Dinasti Qing, Abad 19 - 20 masehi

CEPU BERTUTUP (08.610/2017)

Image
No. Inv. : 08.610/2017 Cepu ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki gelasir berwarna cream yang mengkilap dan pecah seribu. berbentuk bulat datar dan bertutup cembung, dengan motif hiasan flora. Cepu ini berasal dari Dinasti Qing abad 17 hingga abad 20 masehi. Cepu ini biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga seperti wadah bedak dan obat. 

CEPU BERTUTUP (08.206/2016)

Image
No. Inv. : 08.206/2016 Cepu ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki glasir berwarna putih biru yang mengkilap. Berbentuk bulat datar dan bertutup cembung, dengan motif hiasan. Cepu ini berasal dari Dinasti Qing abad 19 hingga abad 20 masehi. Cepu ini biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga seperti wadah bedak dan obat.  

CEPU BERTUTUP (08.207/2016)

Image
No. Inv. : 08.207/2016 Cepu ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki glasir berwarna putih biru yang mengkilap. Berbentuk bulat datar dan bertutup cembung dengan pinggiran cepu yang mempunyai garis 2 lingkaran dan motif hiasan flora. cepu ini berasal dari Dinasti Qing abad 19 hingga abad 20 masehi. Cepu ini biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga seperti wadah bedak dan obat.

CEPU BERTUTUP (08.203/2016)

Image
No. Inv. : 08.203/2016 Cepu ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki glasir berwarna cream yang mengkilap. Berbentuk bulat datar dan bertutup cembung dan bergerigi. Cepu ini berasal dari Dinasti Qing abad 19 hingga abad 20 masehi. Cepu ini biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga seperti wadah bedak dan obat.

CEPU BERTUTUP (08.208/2016)

Image
No. Inv. : 08.208/2016 Cepu ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki glasir berwarna cream yang mengkilap. Berbentuk bulat datar dan bertutup cembung, dengan motif hiasan flora. Cepu ini berasal dari Dinasti Qing abad 19 hingga abad 20 masehi. Cepu ini biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga seperti wadah bedak dan obat.

CEPU BERTUTUP (08.678/2017)

Image
No. Inv. : 08.678/2017 Cepu ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki glasir berwarna putih biru yang mengkilap. Berbentuk bulat datar dan bertutup cembung, dengan motif hiasan flora dan tulisan Cina. Cepu ini berasal dari Dinasti Ming abad 15 hingga 17 masehi. Cepu ini biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga seperti wadah bedak dan obat.

TEMPAT TINTA

Image
No. Inv. : 08.672/2017 Tempat tinta ini terbuat dari bahan tanah liat dan dibakar pada suhu tinggi yang menghasilkan kualitas terbaik. Tempat tinta ini memiliki glasir yang berwara biru putih yang mengkilat. Tempat tinta ini memiliki bentuk bulat bergerigi, yang memiliki leher pendek, mulut kecil dan kaki yang datar. Tempat tinta ini memiliki motif hiasan yang berbentuk segi 5 yang didalamnya memiliki motif flora dan geometris. Tempat tinta ini berasal dari dinasti ming abad 15 - 17 masehi.

TEMPAT TINTA

Image
No. Inv. : 08.692/2017 Tempat tinta ini berbahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, memiliki glasir berwarna biru putih mengkilap. Tempat tinta ini memiliki bentuk badan yang seperti tabung, memiliki leher pendek dan mulut yang kecil, bagian bawah mengecil dan kaki yang datar. Tempat tinta ini memiliki motif hiasan flora pada bagian pundak dan dibadan yang timbul, dan pada bagian lehernya terdapat 2 garis yang melingkar. tempat tinta ini berasal dari dinasti ming abad ke 15 - 17 masehi.

TEMPAT TINTA

Image
No. Inv. : 08.551/2016 Tempat tinta ini terbuat dari bahan tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi, yang memiliki glasir berwarna biru putih mengkilap. Bentuknya mirip seperti guci, yang memiliki badan seperti tabung, leher pendek, mulut lebar dan terlipat keluar dan kaki yang datar. Tempat tinta ini memiliki hiasan yang bermotif seperti awan-awan dan memiliki garis yang melingkar. Tempat tinta ini berasal dari Dinasti Qing abad 17 - 18 masehi.

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1916, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1902, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1902, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi.

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1856, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada pertengahan abad ke-19 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1899, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1899, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1916, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1920, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1907, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

 Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1912, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi.

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1912, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1907, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi.

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1907, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi.

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1907, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1857, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada pertengahan abad ke-19 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1914, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1857, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada pertengahan abad ke-19 Masehi. 

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1858, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada pertengahan abad ke-19 Masehi.

Uang Koin 1 Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1899, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 Masehi. 

Uang Koin 2 ½ Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan "NEDERLANDSCH INDIE", angka tahun 1920, serta nilai nominal uang 2½ Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi "Sapara Patang Puluh Rupiyah" dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi "Seperempat Puluh Rupiah". Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi.

Uang Koin 2 ½ Sen

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan "NEDERLANDSCH INDIE", angka tahun 1897, serta nilai nominal uang 2½ Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi "Sapara Patang Puluh Rupiyah" dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi "Seperempat Puluh Rupiah". Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 Masehi. 

Uang Koin 1 Cent Nederlandsch Indie

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1857, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada pertengahan abad ke-19 Masehi.

UANG KOIN 1 SEN

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1898, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 Masehi.

UANG KOIN 1 SEN

Terbuat dari tembaga dan berbentuk bulat pipih. Bagian sisi depan terdapat lambang Kerajaan Belanda berupa singa bermahkota, tulisan NEDERLANDSCH INDIE, angka tahun 1926, serta nilai nominal uang 1 Cent. Bagian sisi belakang terdapat aksara Jawa yang berbunyi “Sapara Satus Rupiyah” dan aksara Arab berbahasa Melayu yang berbunyi “Seperatus Rupiah.” Koin ini diproduksi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20 Masehi.

PEDANG

Image
No. Inv. : 03.17/77-78 Bilah terbuat dari besi, panjang pipih dengan sedikit lengkungan di bagian tengah. Bagian ujung bilah atau tip berbentuk runcing. Gagang pedang dibuat dari besi, permukaannya bergelombang seperti dililit logam, dan dilengkapi dengan pelindung tangan berbentuk lengkung. Sarung pedang terbuat dari besi, panjang pipih serta sedikit melengkung mengikuti bentuk bilah. Pada mulut sarung terdapat lubang kecil yang digunakan untuk menggantungkan pedang pada sabuk. Pedang ini diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 masehi. 

PISTOL LANTAK

Image
No. Inv. : 03.49/79-80 Pistol ini terbuat dari kayu keras dengan ukuran relatif pendek. Bagian pegangan pistol melengkung hampir 90 derajat dan melebar pada bagian bawah. Ujung pegangan dilapisi dengan logam kuningan, sedangkan pada sisi samping terdapat lempengan kuningan berbentuk memanjang. Laras pistol berbentuk pipa terbuat dari besi dengan moncong melebar ke luar, bagian permukaannya dihiasi ukiran bermotif tumpal, serta punggung laras dari pangkal hingga dekat moncong dilapisi dengan lempengan kuningan. Pada bagian tengah atas agak ke belakang terdapat pelatuk menyerupai kepala burung yang terbuat dari besi. Bagian bawah laras dilengkapi dengan batang logam kecil seukuran panjang laras, berfungsi untuk membersihkan lubang laras serta memadatkan bubuk mesiu. Di dekat pangkal pegangan, bagian bawah pistol memiliki pemicu pelatuk dari besi dengan pelindung berbentuk setengah lingkaran. Sisi samping bagian bawah pistol dilapisi lempengan kuningan yang dihiasi ukiran bermotif lengkun...

GELANG (TIGA BELIT)

Image
No. Inv. : 03.43/79-80 Terbuat dari kuningan, berbentuk bulat oval dengan sisi melebar pada bagian atas. Gelang ini memiliki engsel yang membagi gelang tepat menjadi dua bagian sehingga dapat dibuka dan ditutup. Permukaan gelang dihiasi dengan motif sulur bunga, ragam hias rantai halus, serta ornamen geometris. Bagian ujung gelang dipertegas dengan hiasan titik-titik cembung dan garis ukir halus. Gelang ini biasanya dikenakan oleh wanita, khususnya sebagai hiasan tangan pengantin dalam upacara adat. Diperkirakan dibuat sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

MERIAM

Image
No. Inv. : 03.80/80-81 Meriam ini terbuat dari campuran tembaga dan perunggu dengan bentuk menyerupai silinder panjang. Bagian larasnya membesar di ujung moncong, sedangkan pada pangkalnya terdapat sumbu penyulut. Permukaan laras memiliki tonjolan melingkar sebagai penguat struktur. Meriam ini dipasang pada landasan kayu berbentuk persegi panjang dengan sisi bawah melengkung yang berfungsi sebagai dudukan penopang. Benda ini digunakan sebagai senjata pertahanan dalam peperangan, khususnya untuk menembakkan peluru besi atau batu dengan tenaga mesiu. Senjata ini digunakan oleh serdadu Belanda dikurun waktu VOC berkuasa di Indonesia.

PIPA MADAT

Image
No. Inv. : 03.77/80-81 Terbuat dari kuningan dengan bentuk memanjang dan bagian pangkal menyerupai gading gajah. Pada bagian bawah pangkal terdapat hiasan ukiran timbul berupa garis-garis geometris dan motif titik berulang, serta sebuah cincin logam kecil sebagai pengait. Batang pipa berbentuk silinder panjang meruncing ke ujung, sedangkan bagian  pipa dibuat lebih lebar dengan hiasan ornamen tumpal di sekeliling bibirnya. Pipa madat ini berfungsi sebagai alat untuk menghisap candu, yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu bentuk obat atau konsumsi tertentu. Benda ini diperkirakan dibuat sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

CERANA

Image
No. Inv. : 03.75/80-81 Terbuat dari kuningan dengan penampang berbentuk segi delapan, terdiri dari wadah dan tutup yang disatukan dengan engsel pada salah satu sisinya. Wadahnya memiliki dinding rendah yang dihiasi ukiran motif flora geometris, sedangkan bagian tutup berbentuk datar sedikit berundak dengan permukaan penuh ornamen ukiran sulur-suluran. Pada bagian tepi wadah juga terdapat hiasan berpola flora yang dibuat secara berulang. Cerana ini difungsikan sebagai wadah untuk meletakkan perlengkapan menyirih seperti pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Benda ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

PIRING

Image
No. Inv. : 03.25/78-79 Terbuat dari logam kuningan dengan bentuk bundar dan cekung lebar. Bagian bibir melebar keluar mengelilingi lingkar mulut piring. Permukaan polos tanpa hiasan ornamen. Bagian dasar berbentuk bundar datar tanpa kaki tambahan. Piring ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. Digunakan secara multifungsi, antara lain sebagai wadah tempat makanan atau hidangan dalam acara sehari-hari maupun upacara adat

TORAK

Image
No. Inv. : 03.22/78-79 Terbuat dari logam kuningan, memiliki badan bundar besar dengan bagian leher memanjang dan ramping. Mulut torak berbentuk silinder tegak dengan bibir melebar ke luar, sementara bagian leher dihiasi garis lingkar berlapis. Pada bagian pundak terdapat hiasan ukiran timbul bermotif burung merak yang sedang mengembangkan ekornya, diselingi panel segitiga dengan ornamen flora pucuk rebung. Permukaan badan dikelilingi deretan ukiran geometris dan garis-garis melingkar. Bibir mulut torak berhias ornamen bunga stilisasi. Torak ini diperkirakan dibuat pada abad ke-19 masehi dan digunakan dalam upacara adat Melayu sebagai wadah tempat air untuk keperluan seremonial maupun penyambutan tamu. 

GELANG

Image
No. Inv. : 03.41/79-80 Terbuat dari kuningan, berbentuk lingkaran kaku dengan sisi melebar pada bagian atas. Bentuknya lonjong dengan permukaan bermotifkan sulur bunga dan daun yang dikelilingi oleh ragam hias rantai-rantai halus. Bagian atas gelang menampilkan bidang melebar dengan ukiran flora yang halus, dipadukan dengan ornamen kecil berbentuk titik-titik cembung. Gelang ini digunakan sebagai hiasan tangan pengantin wanita dalam upacara adat. Diperkirakan dibuat sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. 

GELANG

Image
No. Inv. : 03.42/79-80 Terbuat dari kuningan, berbentuk bulat oval dengan sisi melebar pada bagian atas. Gelang ini memiliki engsel yang membagi gelang tepat menjadi dua bagian sehingga dapat dibuka dan ditutup. Permukaan gelang dihiasi dengan motif sulur bunga, ragam hias rantai halus, serta ornamen geometris. Bagian ujung gelang dipertegas dengan hiasan titik-titik cembung dan garis ukir halus. Gelang ini biasanya dikenakan oleh wanita, khususnya sebagai hiasan tangan pengantin dalam upacara adat. Diperkirakan dibuat sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

CINCIN

Image
No. Inv.: 03.44/79-80 Terbuat dari perak, berbentuk lingkaran kecil dengan badan relatif tipis. Pada permukaan cincin terdapat hiasan ukiran timbul menyerupai rangkaian titik-titik kecil yang membentuk pola geometris dan sulur sederhana. Bagian sisi luar cincin menampilkan tekstur bergerigi. Dibuat sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. Cincin ini merupakan perhiasan pengantin wanita dalam upacara adat seperti perkawinan dan lain-lain. 

PENDING

Image
No. Inv.: 03.46/79-80 Terbuat dari kuningan, berbentuk persegi panjang pipih yang saling disambungkan hingga membentuk satu rangkaian. Setiap lempengannya diberi ornamen motif tembus pandang berupa pola geometris menyerupai sinar matahari yang dipadukan dengan lengkungan simetris. Bagian tengah pending memiliki ukuran lebih besar dengan motif utama berbentuk bunga matahari yang mencolok. Pending ini digunakan sebagai kepala ikat pinggang atau gesper pada pakaian adat Melayu pria/wanita, berfungsi sekaligus sebagai hiasan dan pengikat pakaian. Pending ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. 

DUKUH

Image
No. Inv.: 03.50/79-80 Terbuat dari kuningan dan memiliki batu permata di bagian tengah pada setiap tingkatnya. Bentuknya menyerupai tanduk kerbau yang tersusun dalam tiga tingkat, masing-masing dihiasi permata berwarna merah, hijau, dan biru. Pada permukaan lempengan dukuh terdapat ukiran timbul bermotifkan sulur bunga dan daun. Dari bagian samping dan bawah setiap tingkat tergantung umbai-umbai berupa rantai kecil dengan hiasan berbentuk segitiga pipih di ujungnya. Dukuh ini merupakan kelengkapan busana adat perempuan Melayu yang dikenakan di bagian dada, berfungsi sebagai simbol keanggunan sekaligus penanda status sosial. Diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. 

PENDING

Image
No. Inv.: 03.47/79-80 Pending ini terbuat dari kuningan dengan bentuk pipih persegi panjang. Terdiri dari rangkaian belasan lempengan kecil yang dihubungkan satu sama lain, dengan sebuah lempengan berukuran lebih besar berfungsi sebagai pusat atau kepala pending. Setiap lempengan memiliki ragam hias geometris tembus pandang menyerupai jalinan anyaman. Permukaan depan pending dibiarkan polos tanpa tambahan warna, menonjolkan kilau alami logam kuningan. Pada bagian belakangnya terdapat pengait sederhana untuk menghubungkan dengan ikat pinggang. Pending ini digunakan sebagai gesper atau kepala ikat pinggang dalam busana adat Melayu pria/wanita, biasanya dipakai pada acara adat maupun upacara resmi. Pending ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

TUMBUK LADA

Image
No. Inv. : 03.28/78-79 Bilah terbuat dari besi dan berbentuk pipih memanjang dengan ujung yang semakin meruncing. Hulu atau pegangannya terbuat dari kayu berwarna coklat tua, berbentuk kecil melengkung ke bawah menyerupai gagang pistol. Sarungnya terbuat dari kayu berwarna coklat muda dengan penampang panjang pipih, pangkalnya melebar menyerupai mata kapak, serta permukaannya polos. Tumbuk lada merupakan senjata tradisional Melayu yang digunakan sebagai alat pertahanan diri, selain itu juga dipakai sebagai pelengkap tubuh bagi anak laki-laki yang telah menginjak usia dewasa. Senjata ini diperkirakan dibuat sekitar akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 masehi. 

JENAWI

Image
No. Inv. : 03.27/78-79 Bilahnya panjang berbentuk pipih dan semakin ke ujung semakin meruncing. Mata jenawi beserta ulunya terbuat dari besi, sedangkan sarungnya terbuat dari kayu. Jenawi ini memiliki ulu atau gagang yang menyerupai bentuk salib. Sarung jenawi berbentuk panjang pipih dengan permukaan dihiasi motif garis-garis horizontal. Sebagai senjata, jenawi ini dipergunakan oleh tentara Portugis pada abad ke-16 sebagai perlengkapan perang, digunakan sambil menunggang kuda serta dilengkapi dengan perisai.

KENDI

Image
No. Inv. : 08.46/79-80 Terbuat dari tanah liat, kendi ini memiliki badan berbentuk bulat tinggi dengan leher yang panjang serta mulut sempit dan bibir terbuka. Pada bagian atas mulut terdapat sebuah lubang kecil yang berfungsi sebagai tempat mengisi air. Bagian leher dihiasi ornamen bermotif flora dan geometris yang dibuat dengan teknik gores, serta dikelilingi garis ukiran sederhana. Pada bagian pundak terdapat hiasan pola geometris berbentuk segitiga berulang dan ornamen flora yang melingkari seluruh permukaan. Pada bagian badan kendi juga terdapat ornamen dekoratif bermotif flora yang dibuat dengan teknik gores, berpadu dengan pola geometris yang rapi. Sekeliling permukaan bawah badan dihiasi motif garis diagonal. Kendi ini diperkirakan dibuat di Provinsi Singbhuri, Thailand sekitar abad ke-16 hingga abad ke-18 masehi. Biasanya digunakan sebagai wadah air dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari.

SANGKU BERKAKI

Image
  No. Inv. : 03.51/79-80 Terbuat dari kuningan dengan wadah berbentuk bundar hampir menyerupai , memiliki cekungan agak dalam. Pada bagian pinggiran wadah terdapat hiasan bergerigi yang membentuk pola simetris mengelilingi bibirnya.  ini bertumpu pada kaki tinggi berbentuk silinder melebar ke bawah, dengan bagian bawah kaki dihiasi ukiran motif flora kelok paku dan lebah bergayut. Fungsi sangku ini sebagai tempat buah-buahan/bunga rampai. Benda ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

KERIS

Image
No. Inv. : 03.20/77-78 Bilah terbuat dari besi dan berbentuk pipih dengan lekukan bergelombang berjumlah 4 luk. Bagian ujung bilah atau tip-nya meruncing. Hulu keris atau pegangannya terbuat dari kayu, berpenampang agak membulat dan dihiasi dengan ukiran motif barong yang tampak menonjol pada bagian permukaan. Pada bagian pangkal hulu keris terdapat cincin kecil yang menghubungkan bilah dengan hulu. Sarung keris terbuat dari kayu, berbentuk memanjang pipih dengan permukaan dipenuhi ukiran bermotif flora dan geometris. Pada bagian sampir atau pangkal sarung, ukiran motif barong menjadi hiasan utama yang berpadu dengan bentuk melebar dan melengkung ke satu sisi menyerupai perahu. Bagian bawah sarung memanjang lurus dengan ujung mengecil. Keris ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

CERANA

Image
No. Inv. : 03.36/79-80 Terbuat dari kuningan dengan penampang berbentuk segi delapan, terdiri dari wadah dan tutup yang disatukan dengan engsel pada salah satu sisinya. Wadah memiliki dinding rendah yang dihiasi ukiran motif flora, sedangkan tutupnya berbentuk datar sedikit berundak dengan permukaan penuh ornamen ukiran sulur-suluran. Bagian tepi wadah juga dikelilingi hiasan berpola flora geometris. Cerana ini difungsikan sebagai wadah untuk meletakkan perlengkapan menyirih seperti pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Cerana ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. 

JERANGAN

Image
No. Inv. : 03.56/79-80 Terbuat dari kuningan dengan wadah berbentuk bundar ceper, berukuran besar dan memiliki kaki penyangga. Pada bagian pinggir bibir wadah terdapat hiasan ukiran timbul yang menyerupai gelombang serta ukiran terawang bermotifkan kelok paku. Permukaan dasar wadah dihiasi dengan tiga garis lingkaran melingkar. Kaki jerangan ini berbentuk tinggi, semakin ke bawah semakin melebar dengan lekukan serta garis melingkar, dan dihiasi kerawang pada bagian bawahnya. Jerangan ini difungsikan sebagai wadah yang biasanya digunakan untuk meletakkan barang-barang antaran, baik berupa makanan maupun pakaian, dalam upacara adat, salah satunya pada upacara perkawinan. Diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. 

KETUR

Image
No. Inv. : 03.58/79-80 Ketur ini terbuat dari logam kuningan dengan permukaan berwarna kuning keemasan yang mengilap namun sedikit kusam karena oksidasi alami. Bentuknya membulat melebar di bagian atas dengan mulut yang lebar dan cekung ke dalam, serta memiliki kaki berbentuk cincin rendah dan melebar sebagai penopang utama. Bagian kaki, bahu, dan tepi (baik bagian dalam maupun luar) dihiasi dengan motif garis-garis horizontal yang melingkar mengelilingi permukaan. Ketur ini digunakan bersamaan dengan aktivitas mengunyah sirih-pinang, berfungsi sebagai wadah untuk menampung ludah hasil kunyahan sirih yang berwarna merah. Dalam tradisi masyarakat Melayu, benda ini biasanya diletakkan di atas meja atau di atas karpet saat upacara adat, perjamuan, atau kegiatan sosial, sebagai pelengkap perlengkapan sirih. Gaya dan bentuknya mencerminkan pengaruh kuat budaya Melayu klasik yang berkembang di kawasan Riau dan Semenanjung Melayu sekitar abad ke-19 hingga awal abad ke-20 Masehi.

KETUR

Image
No. Inv. : 03.57/79-80 Terbuat dari bahan kuningan, memiliki bentuk wadah bundar dengan mulut yang lebar dan cekung. Bagian kaki berbentuk cincin yang rendah dan melebar, menopang badan yang berlekuk sederhana. Pada bagian kaki, bahu, serta tepi mulut baik sisi dalam maupun luar dihiasi dengan motif horizontal yang teratur. Ketur ini difungsikan sebagai wadah ludah ketika mengunyah sirih yang menghasilkan warna merah, dan biasanya diletakkan di atas meja atau karpet dalam upacara adat maupun kegiatan sehari-hari. Ketur ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

TEKO

Image
No. Inv. : 03.24/78-79 Terbuat dari logam kuningan dengan badan berbentuk bundar dan cembung, mengecil pada bagian pangkal leher. Tutup teko berbentuk setengah bulat dengan knop kecil di bagian atas. Teko ini memiliki cerat panjang melengkung yang menyatu pada bagian leher hingga ke ujung badan. Pegangan berbentuk lengkung tegak dipasang pada sisi kanan dan kiri badan hingga ke bagian atas. Permukaan teko polos tanpa hiasan ornamen. Teko ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi, dan digunakan sebagai wadah air minum dalam kehidupan sehari-hari maupun keperluan jamuan.

SANGKU

Image
No. Inv. : 03.23/78-79 Berbahan dasar logam kuningan, wadah berbentuk bundar lebar dengan badan agak cembung. Bagian bibir melebar keluar mengelilingi mulut wadah. Sangku ini memiliki kaki berbentuk silinder melebar dengan lingkaran rendah yang menjadi penopang. Permukaannya polos tanpa hiasan ukiran. Sangku ini digunakan sebagai wadah tempat makanan maupun keperluan upacara adat. Diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi.

CERANA (03.37/79-80)

Image
No. Inv. : 03.37/79-80 Terbuat dari kuningan dengan penampang berbentuk segi delapan, terdiri dari wadah dan tutup yang disatukan dengan engsel pada salah satu sisinya. Wadah memiliki dinding rendah dengan permukaan polos . Tutupnya berbentuk berundak dan dihiasi ornamen ukiran motif geometris berupa tiga panel berbentuk persegi panjang, masing-masing berisi hiasan menyerupai bunga bintang dengan lingkaran di bagian tengahnya. Cerana ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. Fungsinya sebagai wadah untuk meletakkan perlengkapan menyirih.

TEKO/CEREK

Image
No. Inv. : 03.30.79-80 Terbuat dari logam kuningan dengan permukaan wadah berbentuk bundar cembung beralur vertikal menyerupai buah labu, serta dilengkapi tiga kaki kecil berbentuk cakar sebagai penopang di bagian bawahnya. Pada sisi depan wadah teko terdapat cerat panjang melengkung ke luar, sedangkan pada sisi atas terdapat tangkai besar berbentuk lengkung yang dihubungkan pada kedua sisi badan. Teko ini dilengkapi tutup berbentuk bundar dengan knop kecil di bagian puncaknya. Permukaannya polos tanpa ornamen tambahan, menonjolkan bentuk badan yang beralur sebagai hiasan utama. Teko ini diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 masehi. Difungsikan sebagai wadah air minum dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai perlengkapan dekoratif.

GUCI (08.479/2016)

Image
No. Inv. : 08.479/2016 Guci ini terbuat dari bahan tanah liat yang berwarna coklat, yang dibakar dalam suhu tinggi. Guci ini memiliki glasir berwarna coklat yang mengelupas dibeberapa bagiannya dan glasir yang tidak merata. Guci ini memiliki bentuk yang unik, badan guci ini lurus dan mulus, dibagian leher mengerucut keatas, memiliki mulut yang kecil dan melipat keluar, pada bagian pundak terdapat 1 kuping yang cukup besar, dan pada bagian bawah sedikit mengecil. Guci ini mempunyai bentuk yang sederhana, hanya memiliki 1 kuping yang berfungsi sebagai pegangan untuk mengangkat guci tersebut.  T : 52,5 cm, D : 102 cm Eropa, abad 18 - 20 masehi

TEMPAYAN (08.572/2016)

Image
No. Inv. : 08.572/2016 Tempayan ini terbuat dari bahan tanah liat yang berwarna coklat keabu-abuan. Memiliki glasir mengkilat berwarna hijau kebiruan yang tidak merata dan meleleh. Tempayan ini memiliki badan bulat rata dan tinggi dan bibir tebal melipat keluar, mengecil pada bagian bawahnya. Pada bagian badan tempayan ini memiliki garis melingkar yang cukup banyak dan juga pada bagian lehernya terdapat garis vertikal melingkarin tempayan tersebut. Tempayan ini sering digunakan sebagai wadah tempat air minum dan pencuci kaki. T : 47 cm, Diameter mulut : 33,5 cm, Lingkaran badan : 143 cm Cina, Dinasti Qing, Abad 19 - 20 masehi

CAP BATIK

Cap batik ini umumnya berbahan tembaga serupa yang digunakan dalm proses pembuatan batik tradisinal dengan cara cetak. cap batik ini bermotif flora. cap ini digunakan agar mempercepat proses pembuatan pola batik, metode ini lebih cepat dari metode tradisional menggunakan canting tulis tanmgan.

TEKAT

Tekat merupakan salah satu seni tradisional dalam menghias kain, dengan cara menjahit, menyulam, dan menempel motif hias pada lembaran kain bludru atau satin. adapula motif hias yang di buat pada umumnya berupa stiliran bentuk tumbuh-tumbuhan dan bintang. ditinjau dari bahan yang digunakan untuk pembuatan motif hiasnya, tekat dibedakan menjadi: Tekat Perada Tekat Galang Tekat Kalingkan Tekat Manik-manuik Tekat Api-api Tekat Gim Tekat Laut Tekat sambow

TAKRAW/SEPAK RAGA

Takraw adalah cabang olahraga yang berasal dari sejenis permainan rakyat. permainan ini mirip dengan voli, namun permainan ini menggunakan kaki untuk memukul bola yang terbuat dari rotan. setiap pemain hanya diizinkan memainkan bola sebelum bola di sepak tiga kali berturut-turut. permainan ini berasal dari zaman kesultanan melayu dan dikenal sebagai sepak raga dalam bahasa melayu. 

TEMPAYAN (08.491/2016)

Image
No. Inv. : 08.491/2016 Tempayan ini terbuat dari bahan tanah liat yang dibakar, memiliki glasir yang mengkilat berwarna coklat kehitaman dan kuning keemasan yang tidak merata yang terdapat dibagian luar dan dalam tempayan tersebut. Tempayan ini memiliki badan cukup besar dan tinggi, pada bagian bawahnya mengecil dan memiliki mulut yang lebar, leher pendek. Tempayan ini memiliki motif timbul yang bergambar dua ekor ular naga besar yang sedang memperebutkan sebuah bola api, pada bagian leher terdapat garis tebal yang melingkar dan bawahnya terdapat dua buah garis yang melingkar. Tempayan ini sering digunakan untuk tempat menyimpan air dan beras, dan sering juga dijadikan hiasan. T : 42 cm ; D : 45 cm Cina, Dinasti Qing, abad 19 - 20 masehi

BAJU BESI

Baju besi merupakan sejenis baju zirah atau baju pelindung bersejarah yang berbentuk seperti baju/rompi yang tersusun dari ribuan cincin besi kecil yang saling terkait dan merwarna abu-abu gelap atau kehidupan. berfungsi sebagai pelindung tubuh dari peperangan atau serangan senjata tajam.

GUCI (08.690/2017)

Image
No. Inv. : 08.690/2017 Guci terbuat dari bahan keramik tanah liat yang dibakar. Permukaannya dilapisi glasir coklat tua yang tidak merata dan mengkilap. Guci memiliki tubuh bulat mengembung dengan bagian bawah yang mengecil, sementara bagian atasnya memiliki leher tinggi dan mulut yang melebar. Pada bagian bahu terdapat 4 motif topeng yang menonjol, dibagian atas dan bawah memiliki motif geometris, pada bagian badan guci memiliki motif fauna. T : 51 cm, D : 34 cm Cina, Dinasti Qing, abad 19 - 20 masehi

GUCI (08.558/2016)

Image
No. Inv. : 08.558/2016 Guci terbuat dari bahan keramik tanah liat yang dibakar. Permukaannya dilapisi glasir coklat tua yang tidak merata dan mengkilap. Guci memiliki tubuh bulat mengembung dengan bagian bawah yang mengecil, sementara bagian atasnya memiliki leher pendek dan mulut yang melebar. Pada bagian bahu terdapat 4 kupingan kecil yang dipasang menggunakan teknik tekan. Detail hiasannya berupa motif geometris. T : 26 cm, D : 15 cm Singbhuri - Thailand, abad 16 - 18 masehi

GUCI (08.309/2016)

Image
No. Inv. : 08.309/2016 Guci terbuat tanah liat yang dibakar. Permukaannya dilapisi glasir coklat tua yang tidak merata dan mengkilap. Guci memiliki tubuh bulat mengembung dengan bagian bawah yang mengecil, sementara bagian atasnya memiliki leher pendek dan mulut yang tidak terlalu melebar. Detail hiasannya berupa motif geometris pada bagian atas dan bawah guci. T : 35 cm, D : 17,5 cm Singbhuri - Thailand, abad 16 - 18 masehi

GUCI (08.689/2017)

Image
No. Inv. : 08.689/2017 Guci terbuat tanah liat yang dibakar. Permukaannya dilapisi glasir coklat tua yang tidak merata dan mengkilap. Guci memiliki tubuh bulat mengembung dengan bagian bawah yang mengecil, sementara bagian atasnya memiliki leher pendek dan mulut yang melebar. Detail hiasannya berupa motif timbul flora dan fauna pada bagian badan dan ukiran dekoratif lainnya, guci ini memiliki 6 buah telinga. guci ini memiliki bekas pembakaran. T : 54 cm ; D : 33 cm Cina, Dinasti Qing, abad 19 - 20 masehi

SENAPAN

 Senapan adalah senjata laras panjang yang dibuat dari kayu dan besi berasal dari pekan baru. berfungsi sebagai senjata adat masyarakat kunten untuk melawan penjajahan belanda.